BANTEN — Kylian Mbappé menyampaikan permintaan maaf setelah video lamanya yang memplesetkan meme tentang Mao Zedong beredar luas di media sosial China. Insiden itu membuat sejumlah brand memutus kerja sama, sementara La Liga ikut merilis pernyataan penyesalan.
Penyerang Real Madrid tersebut terseret masalah di tengah pekan yang buruk. Ia baru saja gagal masuk daftar peraih Ballon d'Or, lalu namanya masuk daftar lain: tokoh asing yang dituding "melukai perasaan rakyat China".
Kasus bermula dari beredarnya video lama Mbappé yang menyinggung meme berisi wajahnya dan Mao Zedong. Dalam hitungan jam, ia dicela warganet, kehilangan sejumlah kontrak brand, dan disebut bertanggung jawab atas keputusan televisi negara China menghentikan siaran seluruh pertandingan La Liga.
Permintaan Maaf Mbappé dan La Liga
Mbappé akhirnya buka suara. "Komentar saya tidak bijaksana, dan saya sekarang memahami bahwa itu melukai banyak orang di China," ujarnya dalam pernyataan resmi.
La Liga mengikuti langkah serupa. Liga Spanyol itu menyatakan "sangat menyesali pelanggaran yang ditimbulkan komentar terbaru Kylian Mbappé terhadap penggemar China".
Asosiasi Sepak Bola China (CFA) sebelumnya telah melayangkan protes keras ke Real Madrid. Klub ibu kota Spanyol itu lantas menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat China atas "pelanggaran yang timbul".
Isi Video yang Tidak Diterjemahkan Media China
Dalam video tersebut, Mbappé merujuk sebuah meme tentang dirinya dan "seorang pria... saya pikir dia diktator China". Setelah itu muncul gambar komposit wajah Mbappé di tubuh Mao.
Mbappé memang dijuluki "sang diktator" sejak berseragam Paris Saint-Germain, lelucon soal pengaruhnya di klub. Namun konteks itu tidak menyelamatkannya dari kemarahan publik China.
Aplikasi sepak bola Dongqiudi termasuk yang pertama mengecam "pernyataan tidak pantas" tersebut. Namun mereka menegaskan tidak bisa menerjemahkan isi komentar itu. "Karena komentarnya menyinggung China dan rakyat China, kami tidak bisa menerjemahkannya," tulis Dongqiudi.
Media China umumnya melaporkan reaksi brand dan protes CFA, tetapi menghindari merinci apa persisnya yang diucapkan Mbappé. Topik ini masih trending di media sosial China, dengan satu tagar soal permintaan maafnya menembus lebih dari 600 juta tayangan.
Mengapa Isu Mao Masih Begitu Sensitif
Kasus Mbappé memperlihatkan betapa sensitifnya warisan Mao Zedong di China, hampir 50 tahun setelah kematiannya. Banyak warganet justru bertanya: "Apa sebenarnya yang dia katakan?"
"Banyak netizen tanpa VPN masih tidak tahu kenapa ramai-ramai boikot Mbappé," kata Manya Koetse, editor buletin Eye on Digital China, di X.
Mobo Gao, profesor studi China di Universitas Adelaide, menilai mayoritas rakyat China tidak memandang Mao seburuk persepsi Barat. "Bagi mayoritas rakyat China, Mao dulu dan masih tidak dilihat sesepakatif yang dipercaya di Barat," ujarnya.
Mao adalah pemimpin pendiri China modern, tetapi warisannya mencakup kebijakan radikal seperti Lompatan Jauh ke Depan, yang oleh sejumlah estimasi dikaitkan dengan kelaparan hingga 30 juta jiwa. Partai Komunis China tetap menyebut Mao pahlawan revolusioner, meski mengakui Revolusi Kebudayaan sebagai "kesalahan besar".
Harga Ekonomi yang Harus Dibayar
Wajah Mbappé lazim terlihat di bus, kereta bawah tanah, dan iklan daring di China. Mark Dreyer, penulis buku Sporting Superpower, memperkirakan nilai kontrak komersialnya bisa mencapai 30 juta dolar AS per tahun.
"Begitu ada yang memutuskan kamu melewati batas, itu jadi perlombaan siapa yang paling cepat memutus hubungan, siapa yang paling patriotik," kata Dreyer. "Lalu kamu harus mencium cincin. Tidak ada jalan lain kalau mau bertahan di pasar itu."
Langkah cepat Mbappé dan La Liga menyampaikan maaf diduga untuk menghindari nasib NBA. Liga basket itu pernah kehilangan laga pramusim menguntungkan di China selama enam tahun setelah insiden dengan Houston Rockets.