Pencarian

Sumpah Pemuda 2026: Refleksi UIN SGD Bandung soal Peran Generasi Muda

Rabu, 28 Oktober 2026 • 17:18:31 WIB
Sumpah Pemuda 2026: Refleksi UIN SGD Bandung soal Peran Generasi Muda
Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung menjadi momen refleksi peran generasi muda.

BANTEN — Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 menjadi momen refleksi bagi UIN Sunan Gunung Djati Bandung tentang peran generasi muda di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Tema "Patriotik, Gigih, Berempati, Pemuda untuk Indonesia" diangkat untuk mendorong pemuda tidak sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menghadapi persoalan nyata hari ini.

Hampir satu abad setelah Kongres Pemuda II 1928, cita-cita kebangsaan Indonesia masih menyisakan pekerjaan rumah yang belum tuntas. UIN Sunan Gunung Djati Bandung menilai peringatan Sumpah Pemuda tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan ajakan untuk menimbang ulang sejauh mana semangat persatuan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dunia 2026 jauh berbeda dari dunia 1928. Batas geografis makin mudah dilampaui, informasi bergerak tanpa jeda, dan teknologi mengubah cara orang bekerja, belajar, hingga memahami dirinya sendiri. Namun, kemajuan itu tidak otomatis melahirkan kehidupan yang lebih adil.

Kemajuan Zaman dan Persoalan yang Masih Tersisa

Di tengah pertumbuhan ekonomi digital, masih ada anak muda yang sulit mendapat pekerjaan layak. Di tengah kemajuan pendidikan, kesenjangan kesempatan tetap terjadi. Di tengah derasnya komunikasi, perbedaan pandangan mudah berubah menjadi permusuhan.

Generasi muda hari ini hidup dengan peluang yang nyaris tanpa batas, tetapi juga dituntut beradaptasi lebih keras dari generasi mana pun sebelumnya. Mereka harus paham teknologi, menghadapi ketidakpastian ekonomi, menjaga kesehatan sosial, membangun identitas, sekaligus menemukan tempat di masyarakat yang terus berubah.

Di saat bersamaan, mereka diminta mencintai bangsa, menjaga persatuan, bekerja keras, dan bersiap menjadi pemimpin masa depan. Pertanyaannya, apakah semua tuntutan itu sudah dibarengi ruang yang cukup bagi pemuda untuk menentukan arah perubahan?

Belajar Keberanian dari Kongres Pemuda II 1928

Para pemuda yang berkumpul dalam Kongres Pemuda II 1928 hidup tanpa banyak kepastian. Kemerdekaan belum terwujud, kekuasaan kolonial membatasi kebebasan politik, sementara masyarakat Nusantara hidup dalam keberagaman identitas, bahasa, dan pengalaman sosial.

Meski demikian, mereka mampu membayangkan sebuah bangsa sebelum negara yang dicita-citakan benar-benar berdiri. Mereka paham bahwa masa depan tidak selalu dimulai dari kenyataan yang tersedia, melainkan dari keberanian mempertanyakan keadaan yang dianggap tak mungkin diubah.

Dalam filsafat Ernst Bloch, harapan punya dimensi aktif. Harapan bukan sikap pasif menunggu keadaan membaik, melainkan kesadaran tentang kemungkinan yang belum terwujud dan dorongan untuk memperjuangkannya. Para pemuda 1928 memperlihatkan bagaimana harapan berubah menjadi kekuatan sosial.

Mereka tidak punya seluruh sumber daya untuk membangun negara. Namun, mereka sadar bahwa perbedaan tidak harus menghalangi terbentuknya tujuan bersama.

Persatuan yang Harus Terus Dirawat

Pelajaran itu relevan dengan Indonesia hari ini. Masyarakat makin mudah terpolarisasi. Perbedaan pandangan politik, pilihan sosial, identitas budaya, bahkan preferensi digital bisa berkembang menjadi batas yang memisahkan manusia.

Di ruang media sosial, seseorang lebih mudah menemukan kelompok yang sepaham daripada berusaha memahami mereka yang berbeda. Persatuan pun tidak pernah menjadi pekerjaan yang selesai sekali untuk selamanya. Persatuan harus terus dirawat melalui keadilan, dialog, penghormatan, dan kesediaan membangun kehidupan bersama.

Karena itu, mengenang Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada kebanggaan terhadap masa lalu. Sejarah perlu menjadi sumber keberanian untuk menghadapi persoalan yang belum terselesaikan hari ini.

Patriotisme yang Berani Mengoreksi Diri

Patriotisme sering dipahami sebagai rasa bangga terhadap tanah air. Kebanggaan itu penting, tetapi tidak cukup menjadi ukuran kedewasaan kebangsaan. Mencintai Indonesia bukan berarti menganggap seluruh keadaan sudah berjalan baik.

Rasa cinta yang mendalam justru menuntut keberanian mengakui kelemahan, menghadapi persoalan, dan memperbaiki kesalahan. Bangsa yang kuat memerlukan kemampuan berefleksi terhadap dirinya sendiri, bukan hanya mengulang cerita kejayaan masa lalu.

Dalam pemikiran Hannah Arendt, kehidupan politik yang sehat membutuhkan manusia yang mampu berpikir, menilai, dan bertanggung jawab terhadap dunia bersama. Kesadaran semacam itu menjadi bekal bagi pemuda untuk tidak sekadar menjadi penonton perubahan, tetapi ikut menentukan arahnya.

Sumpah Pemuda bukan janji yang selesai diucapkan pada 1928. Sumpah itu adalah tanggung jawab yang diwariskan ke setiap generasi, dan hingga kini belum usai.

Follow www.lensabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: uinsgd.ac.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks