CILEGON — Kecamatan Pulomerak yang menjadi pintu gerbang Kota Cilegon kini memiliki garda terdepan baru dalam penanggulangan bencana. FPRB Kota Cilegon menggandeng warga setempat melalui Diklat Perempuan Tangguh Bencana, sebuah inisiatif yang disebut sebagai yang pertama di Banten.
Ketua FPRB Kota Cilegon, Hasbi Sidik, menegaskan bahwa keterlibatan perempuan bukan sekadar pelengkap dalam manajemen kebencanaan. Menurutnya, mereka memegang peran krusial sejak sebelum bencana terjadi, saat tanggap darurat, hingga masa pemulihan.
“Peran tersebut dapat dijalankan dalam setiap tahapan manajemen penanggulangan bencana, mulai dari prabencana, pada saat tanggap darurat, hingga pada masa pascabencana,” kata Hasbi di sela-sela kegiatan.
Bekal yang Diberikan: Dari Ekosistem Lokal hingga Jaringan Sosial
Hasbi menjelaskan, perempuan yang terlibat tidak hanya dilatih soal teori kebencanaan. Mereka juga dibekali pemahaman mendalam tentang kondisi lingkungan dan ekosistem lokal, keterampilan teknis, hingga kemampuan berorganisasi di tengah masyarakat.
“Dengan bekal tersebut, Perempuan Tangguh Bencana dapat membantu masyarakat mengurangi risiko bencana, merespons kondisi darurat secara efektif, serta berperan dalam proses pemulihan sehingga masyarakat menjadi lebih tangguh menghadapi dampak bencana,” ujarnya.
Ia menambahkan, program ini menjadi pilot project di Provinsi Banten. “Perempuan Tangguh Bencana ini baru ada di Kota Cilegon dan menjadi yang pertama di Banten. Saya berharap seluruh peserta dapat menyimak materi dari para narasumber, kemudian menerapkannya di lingkungan masing-masing,” katanya.
Mengapa Pulomerak? Wilayah dengan Risiko Ganda
Camat Pulomerak, Ade Haero Sanjaya, menyebut karakteristik wilayahnya berbeda dengan kecamatan lain. Selain rawan bencana alam, kawasan ini juga berhadapan langsung dengan risiko yang dipicu aktivitas industri dan teknologi yang terus berkembang.
“Pulomerak merupakan pintu gerbang Kota Cilegon yang terus berkembang. Seiring meningkatnya aktivitas dan pembangunan, kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana menjadi hal yang sangat penting,” jelas Ade.
Dukungan nyata pun datang dari FPRB. Selain pelatihan, kecamatan setempat menerima bantuan peralatan kebencanaan berupa gergaji mesin (chainsaw), handy talky (HT), tas emergency kit, dan perlengkapan pendukung lainnya.
“Kami mengapresiasi FPRB Kota Cilegon yang telah membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat melalui kegiatan ini. Kehadiran Perempuan Tangguh Bencana diharapkan dapat membantu upaya mitigasi di tengah masyarakat,” pungkas Ade.