PANDEGLANG — Kepastian identitas Surakman mengakhiri penantian keluarganya selama lebih dari dua pekan sejak kapal yang ditumpanginya hilang kontak. Jenazah pria 60 tahun itu dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis (24/9/2026) sekitar pukul 07.20 WIB sebelum dibawa ke rumah duka di Carita.
Kedatangan Gubernur Banten Andra Soni ke kediaman keluarga Surakman menjadi penanda berakhirnya masa pencarian yang berlangsung sejak awal September. Warga setempat turut bergotong royong mempersiapkan pemakaman.
Identifikasi DNA Pusdokkes Polri Pastikan Jenazah Surakman
Jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano pada 12 September 2026 dipastikan merupakan Surakman berdasarkan hasil pemeriksaan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri. Sebelum identitasnya dipastikan melalui tes DNA, jenazah telah menjalani sejumlah pemeriksaan forensik, antara lain sidik jari, susunan gigi, dan pemeriksaan properti.
Namun, identitas belum dapat dipastikan berdasarkan data primer sehingga proses identifikasi dilanjutkan dengan pemeriksaan DNA. Hasil pemeriksaan DNA kemudian menunjukkan kecocokan genetik dengan keluarga Surakman.
"Berdasarkan laporan DVI Pusdokkes Polri, jenazah yang ditemukan di Enggano tersebut teridentifikasi secara DNA sebagai Surakman," kata Andra Soni.
KM Arupadhatu I Hilang Kontak Sejak 7 September 2026
Surakman merupakan satu dari delapan orang yang berada di KM Arupadhatu I dan dilaporkan hilang kontak pada 7 September 2026 saat berlayar menuju perairan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Selain Surakman dan kru kapal lainnya, terdapat lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut.
Kapal yang ditumpangi rombongan itu dilaporkan tidak lagi mengirim sinyal sejak tanggal tersebut, memicu operasi pencarian di perairan Selat Sunda dan sekitar Pulau Enggano.
Keluarga Gelar Pengajian Setiap Malam Selama Pencarian
Putra Surakman, Yayat Suryadi (34), mengatakan keluarga terus menggelar doa bersama sejak ayahnya dinyatakan hilang. Doa bersama itu melibatkan warga sekitar rumah di Kampung Pagedongan.
"Sejak hilang sampai sekarang, kami terus mengadakan pengajian di rumah. Setiap malam kami bersama-sama warga memanjatkan doa," ujar Yayat.
Yayat mengenang ayahnya sebagai sosok nelayan tangguh yang telah melaut sejak lulus sekolah dasar. Surakman meninggalkan dua anak dan enam cucu.
Jenazah Disalatkan di Masjid Lalu Dimakamkan di TPU Kidemang
Keluarga kini bersiap menyambut kepulangan jenazah Surakman. Setelah tiba di rumah duka, jenazah akan disalatkan di masjid sebelum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kidemang.
"Dari bandara jenazah akan dibawa ke sini, kemudian disalatkan di masjid. Setelah itu, langsung dimakamkan di TPU Kidemang," tutur Yayat.
Setelah pemakaman, keluarga juga akan menggelar rangkaian tahlilan untuk mendoakan almarhum.