JAKARTA — Pasar kripto kembali menghadapi tekanan setelah Bitcoin (BTC) kehilangan pijakan di area support US$64.000. Dalam sepekan terakhir, aset digital paling likuid ini tercatat terkoreksi sekitar 2,7 persen dan sempat menyentuh level terendah US$62.785 sebelum diperdagangkan di kisaran US$63.900.
Analis pasar menyebut kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik menjadi pemicu utama aksi jual. Selain itu, struktur teknikal yang melemah memperparah kondisi pasar yang tengah berusaha pulih.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Masih Hawkish
Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) memang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen pada pertemuan 29 Juli 2026. Ini merupakan kali kelima berturut-turut suku bunga ditahan. Namun, pasar justru membaca kebijakan tersebut masih bernada hawkish.
Tiga pejabat regional The Fed memberikan suara untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Alhasil, probabilitas kenaikan suku bunga pada September meningkat menjadi sekitar 72,3 persen, lebih tinggi dibandingkan kisaran 54–63 persen dalam dua pekan sebelumnya.
“Kata ‘menahan’ tidak selalu berarti dovish. Komposisi voting dan pernyataan The Fed justru memperlihatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian global. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga masih tinggi, ruang penguatan aset kripto kemungkinan tetap terbatas,” jelas Yudhono.
Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak
Tekanan eksternal juga datang dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut laporan FLOQ, jeda konflik yang dimulai pada 27 Juli hanya berlangsung sekitar dua hari sebelum kembali terjadi eskalasi.
Kondisi ini mendorong harga minyak mentah melonjak. Harga Brent naik sekitar 3,42 persen menjadi US$86,97 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) meningkat sekitar 3,58 persen menjadi US$82,09 per barel.
Kenaikan harga energi dikhawatirkan memicu tekanan inflasi global sehingga memperkuat peluang bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat. “Apabila konflik terus mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz, kekhawatiran inflasi dapat meningkat dan memperburuk sentimen terhadap aset berisiko,” ujar Yudhono.
Arus Dana ETF Bitcoin Mulai Berbalik Arah
Dari sisi institusional, produk ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat masih mencatat arus dana masuk selama tiga pekan berturut-turut. Hingga pekan yang berakhir sekitar 24 Juli 2026, ETF Bitcoin membukukan net inflow US$33,8 juta.
Namun, tren tersebut berbalik pada akhir pekan dengan arus keluar sekitar US$225,1 juta pada Kamis dan US$240 juta pada Jumat. Kondisi ini memutus tren positif selama tujuh hari sebelumnya.
Menariknya, ETF Ethereum justru mencatat arus masuk mingguan sekitar US$104 juta, atau hampir tiga kali lebih besar dibandingkan ETF Bitcoin. Fenomena ini mengindikasikan adanya rotasi modal ke Ethereum meski belum dapat dipastikan menjadi tren jangka panjang.
“Arus dana ETF menunjukkan minat institusional belum menghilang, tetapi tingkat sensitivitasnya terhadap kebijakan suku bunga masih sangat tinggi. Investor besar terlihat lebih selektif dan cepat melakukan penyesuaian menjelang rilis data ekonomi penting,” kata Yudhono.
Level Kunci yang Perlu Dicermati Investor
Secara teknikal, level US$62.800 menjadi area support terdekat setelah Bitcoin kehilangan level US$64.000. Sementara itu, area US$65.700 hingga US$66.500 menjadi zona resistensi yang perlu ditembus untuk membuka peluang pemulihan harga.
Menurut Yudhono, Bitcoin masih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi pada jangka pendek. “Selama Bitcoin belum mampu kembali dan bertahan di atas US$65.700, pasar masih berisiko mengalami tekanan lanjutan. Sebaliknya, level US$62.800 menjadi area penting karena apabila ditembus secara konsisten dapat membuka ruang koreksi yang lebih dalam,” ungkapnya.
Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat pada awal Agustus, termasuk ISM Manufacturing PMI dan ADP Employment Report. Data tersebut akan menjadi indikator berikutnya bagi arah kebijakan moneter The Fed dan pergerakan harga aset kripto global.