Pencarian

Rupiah Menguat 0,14% ke Rp17.890/USD, Pasar Waspadai Selat Hormuz

Jumat, 09 Oktober 2026 • 09:49:01 WIB
Rupiah Menguat 0,14% ke Rp17.890/USD, Pasar Waspadai Selat Hormuz
Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,14 persen ke level Rp17.890 per dolar AS pada Jumat (9/10/2026).

BANTEN — Nilai tukar rupiah dibuka menguat 25 poin atau 0,14 persen ke level Rp17.890 per dolar AS pada perdagangan Jumat (9/10/2026) pagi, dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.915. Penguatan tipis ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz yang kembali mengancam jalur pasokan minyak global. Analis memperkirakan rupiah masih akan fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.910 hingga Rp17.950 per USD.

Data Bloomberg yang dikutip hingga pukul 09.26 WIB menempatkan rupiah di Rp17.890 per USD. Sementara itu, Yahoo Finance mencatat posisi Rp17.885 per USD pada waktu yang sama, menguat tipis lima poin atau 0,03 persen dari Rp17.890. Perbedaan tipis antar sumber data ini lazim terjadi di pembukaan pasar akibat likuiditas yang belum penuh.

Analis mata uang Ibrahim Assuabi memproyeksikan rupiah belum akan berbalik arah pada penutupan hari ini. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.910 per USD hingga Rp17.950 per USD," ujar Ibrahim dalam analisis hariannya.

Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Memanas

Ibrahim menilai konflik yang terus berlanjut antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman membuat pasar waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak. Kelompok yang didukung Iran itu menyerang kilang minyak di Riyadh awal pekan ini.

Meski begitu, arus pasokan dari Timur Tengah sempat melampaui tingkat sebelum perang pada September. "Pasokan dari Timur Tengah terpantau meningkat pada September, dengan arus melalui Selat Hormuz sempat melampaui tingkat sebelum perang," kata Ibrahim.

Ancaman terhadap pelayaran minyak di Teluk dan Selat Hormuz kembali meningkat pada Oktober. Jalur tersebut sebelum konflik mengangkut volume setara sekitar 20 persen pasokan minyak dan bahan bakar global.

Serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz mencapai tingkat tertinggi pekan lalu, tertinggi sejak dimulainya perang Iran, menurut sumber keamanan maritim yang memantau insiden tersebut. Dalam insiden terbaru, proyektil menghantam sebuah kapal tanker di lokasi 51 mil laut utara Madinat ash Shamal, Qatar, dan dilaporkan menimbulkan korban jiwa. Badan United Kingdom Maritime Trade Operations mengonfirmasi kejadian itu pada hari Rabu.

Fokus Pasar Beralih ke Data Klaim Pengangguran AS

Pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan 27-28 Oktober, menyusul kenaikan 25 basis poin pada September. Namun, risiko inflasi yang terus berlanjut, sebagian didorong tingginya harga energi, membuat peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada Desember tetap terbuka.

Hari ini perhatian pasar tertuju pada data mingguan klaim awal tunjangan pengangguran AS yang dirilis malam nanti. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Keyakinan Konsumen Sedikit Memudar pada September

Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia tetap berada di zona optimistis, namun sedikit memudar pada September. IKK September tercatat 118,1, turun dibandingkan Agustus yang sebesar 118,5. Angka di atas 100 menandakan konsumen optimistis memandang perekonomian saat ini hingga enam bulan mendatang.

Penurunan tersebut didorong Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang berada di 107,5, lebih rendah dari Agustus sebesar 109,4. Konsumen menilai prospek perekonomian saat ini lebih suram dibandingkan bulan sebelumnya. Sebaliknya, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) naik dari 127,6 pada Agustus menjadi 128,7 pada September, menandakan konsumen melihat prospek ekonomi enam bulan ke depan lebih cerah.

Defisit APBN Rp240,1 Triliun, Ekonom Ingatkan Soal Restitusi

Kementerian Keuangan memaparkan realisasi APBN hingga Agustus 2026 mengalami defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Realisasi pendapatan negara baru 65,2 persen dari target Rp3.153 triliun, sementara belanja negara tercatat Rp2.295,7 triliun atau 59,7 persen dari target Rp3.842 triliun.

Para ekonom mengingatkan angka tersebut perlu dibaca bersama pos penerimaan yang masih berpotensi berubah, terutama restitusi. Jika hanya melihat persentase realisasi, posisi APBN bisa terlihat lebih longgar daripada kondisi sebenarnya.

Kualitas penerimaan di balik angka itu perlu dicermati karena restitusi pajak yang belum dibayarkan berpotensi membuat penerimaan bersih sementara terlihat lebih tinggi. Ketika restitusi dicairkan pada kuartal IV, terutama bersamaan meningkatnya pengembalian PPN eksportir dan penyelesaian kewajiban pajak badan, penerimaan bersih dapat turun dan defisit melebar tanpa ada tambahan belanja baru.

Follow www.lensabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: metrotvnews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks