Pencarian

BEI: FTSE Russell Pertahankan Indonesia di Secondary Emerging Market

Senin, 26 Oktober 2026 • 09:49:31 WIB
BEI: FTSE Russell Pertahankan Indonesia di Secondary Emerging Market
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan hasil pertemuan dengan FTSE Russell dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (26/10/2026).

BANTEN — Bursa Efek Indonesia memastikan status pasar modal Indonesia tetap berada di kategori Secondary Emerging Market versi FTSE Russell, tanpa masuk daftar pantauan reklasifikasi. Kepastian itu diperoleh setelah Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menggelar pertemuan daring dengan pihak FTSE Russell pada Jumat (23/10) lalu.

Pertemuan tersebut menjadi forum klarifikasi setelah FTSE Russell merilis laporan evaluasi pasar pada 6 Oktober. Dalam laporan itu, lembaga penyedia indeks saham global tersebut menetapkan Indonesia bertahan di klasifikasi Secondary Emerging Market.

Jeffrey menyampaikan hasil pertemuan itu dalam konferensi pers di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (26/10/2026). Ia menjelaskan bahwa BEI memaparkan perkembangan reformasi pasar modal yang telah dijalankan, mencakup tiga aspek utama: transparansi, likuiditas, dan pengawasan atau surveillance.

Isi Pembicaraan BEI dan FTSE Russell

Dalam pertemuan daring tersebut, Jeffrey kembali mempertanyakan posisi Indonesia dalam klasifikasi FTSE Russell. Pihak FTSE disebut menegaskan bahwa laporan 6 Oktober sudah secara jelas menempatkan Indonesia di Secondary Emerging Market.

"FTSE menegaskan bahwa di dalam report mereka di tanggal 6 Oktober secara jelas sudah disampaikan, bahwa FTSE menetapkan Indonesia di Secondary Emerging Market," tegas Jeffrey.

Selain mempertahankan status, FTSE Russell juga tidak memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantauan atau watchlist reklasifikasi. Menurut Jeffrey, keputusan itu menjadi konfirmasi kuat atas reformasi yang dilakukan otoritas bursa.

"Indonesia tidak dimasukkan ke dalam watchlist dan tentu itu adalah konfirmasi yang sangat kuat, yang disampaikan oleh FTSE dan apresiasi yang diberikan atas reformasi yang kita lakukan," pungkasnya.

Apresiasi FTSE atas Reformasi Pasar Modal

Jeffrey menyebut FTSE Russell menyampaikan apresiasi atas langkah-langkah yang sudah dijalankan di pasar modal Indonesia. Apresiasi itu disampaikan langsung dalam pertemuan daring pada Jumat (23/10) tersebut.

"FTSE menyampaikan apresiasi atas apa yang sudah dilakukan di pasar modal Indonesia," ungkap Jeffrey.

Tiga aspek reformasi yang dipaparkan BEI—transparansi, likuiditas, dan pengawasan—menjadi fokus utama pembahasan. Ketiganya merupakan syarat yang biasa disorot penyedia indeks global sebelum memutuskan status sebuah pasar.

Mengapa Status Ini Penting bagi Investor

Klasifikasi Secondary Emerging Market menentukan bobot Indonesia dalam indeks acuan yang dilacak dana-dana global. Status yang bertahan berarti aliran dana pasif dari investor internasional yang mengikuti indeks FTSE Russell tidak berubah akibat reklasifikasi.

Bagi emiten di BEI, posisi ini menjaga keterjangkauan saham Indonesia oleh fund manager luar negeri yang punya mandat berinvestasi di pasar berkembang. Kepastian status juga mengurangi ketidakpastian yang biasanya membuat investor asing menunda keputusan masuk.

Yang perlu dicermati, status tersebut bukan jaminan permanen. FTSE Russell tetap melakukan evaluasi berkala, dan perbaikan likuiditas serta tata kelola pasar menjadi faktor yang menentukan apakah Indonesia bisa naik kelas ke klasifikasi yang lebih tinggi di kemudian hari.

BEI belum memerinci target waktu untuk mendorong reklasifikasi ke tingkat berikutnya. Namun arah reformasi yang dipaparkan dalam pertemuan 23 Oktober menunjukkan upaya berkelanjutan pada tiga area yang menjadi perhatian FTSE Russell.

Follow www.lensabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks