Pencarian

Chery Volt-Dragon Klaim Isi Baterai 5 Menit, Indonesia Diminta Perkuat Riset Energi

Sabtu, 24 Oktober 2026 • 17:18:31 WIB
Chery Volt-Dragon Klaim Isi Baterai 5 Menit, Indonesia Diminta Perkuat Riset Energi
Chery memperkenalkan sistem pengisian daya supercepat Volt-Dragon yang diklaim mampu menambah jarak tempuh hingga 500 kilometer dalam lima menit.

BANTEN — Chery memperkenalkan sistem pengisian daya supercepat Volt-Dragon yang diklaim menambah jarak tempuh hingga 500 kilometer hanya dalam lima menit. Teknologi dengan daya puncak 1,44 megawatt ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi Indonesia, yang dinilai perlu memperkuat riset energi dan baterai agar tidak sekadar menjadi pasar inovasi global.

Produsen otomotif asal Tiongkok, Chery, memperkenalkan sistem pengisian daya supercepat bernama Volt-Dragon. Perusahaan mengklaim teknologi tersebut mampu mengisi baterai dari 10 persen hingga 97 persen dalam waktu enam menit 50 detik.

Klaim itu muncul saat produsen kendaraan listrik di berbagai negara berlomba menekan waktu pengisian, salah satu hambatan utama adopsi mobil listrik. Namun Chery belum mengungkap model kendaraan yang bisa memanfaatkan kemampuan maksimal sistem tersebut.

Daya Puncak 1,44 Megawatt dan Ketergantungan pada Baterai

Volt-Dragon disebut memiliki daya pengisian puncak mencapai 1,44 megawatt. Dengan daya sebesar itu, penambahan jarak tempuh hingga 500 kilometer diklaim hanya butuh lima menit.

Kemampuan tersebut tetap bergantung pada kompatibilitas kendaraan, teknologi baterai, serta kondisi pengisian di lapangan. Artinya, angka maksimal itu belum tentu dirasakan semua pengguna.

Chery juga belum merinci secara terperinci model yang dapat memanfaatkan kemampuan maksimal sistem tersebut. Konsumen perlu menunggu pengumuman resmi soal ketersediaan teknologi ini di lini produksi.

Permintaan Listrik Indonesia Naik Hampir 800 Terawatt-jam pada 2035

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan listrik Indonesia meningkat dari hampir 500 terawatt-jam pada 2025 menjadi hampir 800 terawatt-jam pada 2035. Pertumbuhan ekonomi dan bertambahnya kebutuhan listrik di berbagai sektor menjadi pendorong utama.

Kebutuhan penyimpanan energi ikut membesar. Baterai tidak hanya dibutuhkan kendaraan, tetapi juga berperan mendukung pemanfaatan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin yang produksinya berubah mengikuti kondisi alam.

Indonesia punya modal sumber daya mineral, termasuk nikel, untuk mendukung industri baterai. Namun penguasaan bahan baku saja tidak cukup untuk membangun rantai industri yang bernilai tambah.

Riset Baterai Natrium-ion hingga Hidrogen Perlu Didorong

Penguatan riset menjadi kunci. Indonesia perlu menekan biaya produksi, memperkuat standar keselamatan baterai, dan mengembangkan teknologi daur ulang agar rantai industri memberi nilai tambah lebih besar.

Penelitian juga perlu mencakup beragam teknologi penyimpanan energi, termasuk baterai natrium-ion dan sistem penyimpanan listrik berskala besar. Diversifikasi membuka alternatif selain baterai berbasis mineral tertentu, dengan tetap mempertimbangkan biaya, kinerja, ketersediaan bahan baku, dan dampak lingkungan.

Pemanfaatan energi matahari, angin, aliran sungai, hingga gelombang laut memerlukan dukungan riset berkelanjutan. Tantangannya bukan hanya menghasilkan listrik, tetapi juga menyimpan dan menyalurkannya secara efisien, terjangkau, dan stabil.

Hidrogen hasil elektrolisis air menggunakan listrik dari sumber terbarukan juga berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan industri tertentu. Penerapannya tetap perlu dikaji berdasarkan efisiensi, biaya, dampak lingkungan, dan kesiapan infrastruktur.

Infrastruktur Pengisian Daya Jadi PR Bersama

Peralihan menuju kendaraan listrik dan energi terbarukan tidak berlangsung dalam semalam. Kendaraan berbahan bakar minyak masih dipakai, tetapi perannya berpotensi berkurang bila teknologi alternatif semakin kompetitif dan didukung infrastruktur memadai.

Bagi Indonesia, perkembangan teknologi pengisian daya seperti Volt-Dragon menjadi momentum menyiapkan tenaga ahli dan membangun infrastruktur pengisian daya. Tanpa kemampuan teknologi sendiri, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi inovasi global.

Peluang lebih besar terbuka bila riset dalam negeri diperkuat, sehingga Indonesia ikut terlibat dalam pengembangan industri energi masa depan, bukan sekadar pengguna teknologi yang sudah jadi.

Follow www.lensabanten.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pujatvaceh.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks