BANTEN — Penerbangan helikopter tersebut tidak hanya difokuskan pada pengangkutan material bantuan. TNI AU menyatakan armada yang sama juga digunakan untuk melakukan pemantauan udara di wilayah Reok.
Aktivitas pengintaian dari ketinggian ini menjadi penting untuk memetakan kondisi terkini pascagempa. Data visual yang dihasilkan diharapkan membantu memetakan akses darat dan area yang paling membutuhkan prioritas penyaluran.
Penggunaan helikopter menjadi pilihan logis dalam situasi tanggap darurat di NTT. Kondisi geografis Manggarai dan Nagekeo yang berbukit serta potensi kerusakan infrastruktur jalan darat sering kali memperlambat distribusi bantuan konvensional.
Dengan mobilitas vertikal, helikopter Caracal mampu menjangkau titik-titik terisolir yang tidak bisa dilewati kendaraan roda empat. Kecepatan distribusi menjadi faktor krusial untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang mengungsi.
Helikopter H225M Caracal merupakan tipe yang lazim digunakan untuk operasi militer selain perang (OMSP). Dengan kapasitas angkut yang besar, unit ini mampu membawa logistik dalam jumlah signifikan dalam satu kali penerbangan.
Pengoperasiannya di NTT menegaskan kesiapan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AU dalam merespons bencana alam secara cepat. Bantuan yang dikirimkan menyasar kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, serta perlengkapan darurat lainnya.
Langkah TNI AU ini merupakan bagian dari operasi gabungan yang melibatkan berbagai unsur kemanusiaan. Koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah menjadi kunci agar bantuan tepat sasaran.
Misi pemantauan udara yang dilakukan di Reok juga memberi nilai tambah bagi proses evakuasi dan asesmen kerusakan. Data yang dikumpulkan dari udara akan menjadi dasar perencanaan bantuan lanjutan bagi para pengungsi di wilayah terdampak gempa.