BANTEN — Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar (SAMR) China mengumumkan penarikan tersebut pada Jumat pekan ini. Langkah ini merupakan buntut dari evaluasi sistem bantuan mengemudi Tesla yang dinilai gagal memberikan peringatan dini saat pandangan pengemudi meninggalkan jalan. Recall ini berlaku untuk kendaraan yang diproduksi antara 4 Maret 2019 hingga 7 Desember 2025.
Masalah utama recall ini terletak pada metode pemantauan. Sistem Autosteer pada kombinasi bantuan mengemudi level 2 sebelumnya hanya mengandalkan steering-wheel torque monitoring—sensor yang mendeteksi sentuhan tangan di setir, bukan fokus pandangan pengemudi. SAMR menilai mekanisme ini tidak memadai dan berisiko meningkatkan potensi kecelakaan.
Solusinya adalah pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA) yang berlaku langsung. Tesla akan mengaktifkan cabin-camera monitoring untuk melacak gerakan mata pengemudi, melengkapi sensor torsi yang sudah ada. Dengan kata lain, sistem kini memastikan tangan berada di setir sekaligus mata melihat ke jalan.
Kamera kabin sebenarnya sudah digunakan Tesla di China tahun ini saat meluncurkan fitur supervised yang dulu dikenal sebagai Full Self-Driving. Namun, sistem ini terbukti mudah ditipu. Dalam hitungan minggu, sejumlah pengemudi di China memasang kepala boneka plastik murah di dekat kaca spion untuk mengelabui kamera.
Salah satu pemilik Model 3 bahkan dilaporkan mengemudi selama 30 menit sambil makan kuaci di belakang patung kepala Dwayne Johnson. Celah keamanan inilah yang coba ditutup oleh recall terbaru ini.
Recall ini menandai perubahan sikap besar Tesla di China. Pada 2021, di tengah pengawasan ketat pemerintah terhadap kamera dan data pengguna, Tesla menyatakan kendaraan yang dijual di China "tidak mengaktifkan kamera internal" demi mematuhi hukum privasi setempat. Kini, pemantauan berbasis kamera menjadi kewajiban di seluruh armada bantuan mengemudi kombinasi mereka.
Keputusan China ini sejalan dengan langkah regulator Amerika Serikat. Pada Desember 2023, NHTSA memaksa Tesla melakukan recall sekitar 2 juta kendaraan untuk memperketat pengawasan keterlibatan pengemudi, yang akhirnya mendorong penggunaan kamera kabin di pasar Amerika Utara.
Recall pemantauan pengemudi ini bukan satu-satunya. Pada hari yang sama, Tesla juga mengajukan recall kedua yang mencakup hampir 3 juta kendaraan terkait tuas pembuka pintu darurat interior yang sulit ditemukan setelah kecelakaan. Jika digabungkan, total penarikan mencapai 5.716.552 unit—rekor terbesar Tesla di China, pasar terbesar keduanya.
Bagi pemilik kendaraan terdampak di Indonesia, pembaruan OTA ini tidak akan berpengaruh langsung karena sistem bantuan mengemudi Tesla di pasar domestik memiliki konfigurasi berbeda. Namun, langkah regulator China ini menjadi preseden penting bagi pengawasan teknologi otonom di Asia, termasuk potensi adopsi standar serupa oleh negara lain.