TANGERANG — Timbunan sampah yang tertutup puing bebatuan membuat proses pemadaman kebakaran di lahan kosong Pondok Bahar, Karang Tengah, berlangsung alot. UPT Damkar Ciledug yang diterjunkan ke lokasi harus menggunakan teknik khusus untuk menjangkau titik api yang berada di lapisan terdalam tumpukan material.
Komandan Regu (Danru) 3 UPT Damkar Ciledug, Syuhada, menjelaskan bahwa penyemprotan biasa dari luar tidak efektif. Air tidak mampu menembus lapisan puing untuk mencapai material kayu yang menjadi sumber bara api.
Untuk mengatasi hal itu, personel di lokasi menerapkan metode suntik. Air bertekanan tinggi 8 hingga 9 bar disemprotkan langsung ke dalam tumpukan puing agar bisa menjangkau titik terdalam material yang terbakar.
“Karena memang yang terbakar ini buangan sampah yang di atasnya tertutupi puing-puing kedalaman kurang lebih dua meter. Kebanyakan bahan material kayu atau tripleks ada di bawah, makanya perlu waktu untuk memadamkan,” ujar Syuhada di lokasi kejadian.
“Kita pakai metode suntik dengan menyemprotkan air bertekanan tinggi 8 hingga 9 bar langsung ke dalam tumpukan puing untuk menjangkau material kayu di bawahnya,” lanjutnya.
Sebanyak 15 personel dan 4 unit mobil pemadam dikerahkan dalam operasi yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut. Meski penanganannya ekstra, petugas tidak khawatir kehabisan air karena lokasi kebakaran berada tepat di pinggir kali, sehingga mesin pompa bisa langsung menyedot air dari sungai.
Ketua RW 06 Kelurahan Pondok Bahar, Hernowo, menuturkan api pertama kali terlihat sekitar pukul 08.00 WIB. Titik api diduga berasal dari pembakaran sampah kasur bekas yang ditinggalkan tanpa pengawasan hingga merambat ke material lain di sekitarnya.
“Sepertinya ada yang bakar sampah berupa kasur bekas di sini. Nah, tidak ditunggu, bara atau apinya menyebar,” kata Hernowo.
Saat petugas tiba di lokasi, area yang terbakar diperkirakan sudah mencapai 80 persen. Kondisi cuaca kemarau membuat material mudah tersulut dan api cepat membesar.
Pihak damkar mengimbau warga sekitar untuk tidak mendekati lokasi kebakaran. Asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah cukup pekat dan berbahaya bagi kesehatan jika terhirup dalam waktu lama.
“Kami imbau jangan menonton karena memang asapnya cukup pekat dan berbahaya. Cukup di rumah saja, selain itu dilarang melakukan pembakaran liar,” tegas Syuhada.