Kemenperin Bidik 2.577 Startup Binaan Jadi Mitra Strategis Industri Manufaktur

Penulis: Pandu Wibisono  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 10:53:31 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menghadiri acara terkait program Startup For Industry di Banten.

BANTEN — Program Startup For Industry (SFI) yang digagas Kemenperin menjadi tulang punggung strategi transformasi industri berbasis inovasi. Dari total startup binaan tersebut, 1.740 di antaranya telah mengadopsi teknologi, menunjukkan pergeseran signifikan dari model bisnis konvensional menuju solusi digital.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa jumlah startup yang banyak tidak lagi menjadi tolok ukur utama. Fokus pemerintah kini diarahkan pada kapabilitas startup dalam memecahkan persoalan riil di lini produksi.

"Indonesia tidak hanya membutuhkan semakin banyak startup, tetapi startup yang mampu menyelesaikan persoalan nyata di sektor industri," kata Agus, Minggu (9/8/2026).

Pasar IKM Jadi Target Ekspansi Utama Startup

Kemenperin melihat potensi besar dari 4,43 juta unit IKM yang tersebar di seluruh Indonesia. Sektor ini menjadi pasar potensial bagi adopsi teknologi seperti otomatisasi proses produksi, sistem manajemen inventori berbasis AI, hingga penerapan IoT untuk efisiensi energi.

Namun, Agus mengingatkan bahwa ekosistem startup nasional masih menghadapi tantangan struktural. Kemampuan bertahan hidup (survivability), akses pembiayaan, dan integrasi ke rantai pasok industri menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.

Posisi Indonesia di Peta Startup Asia Tenggara

Dengan lebih dari 3.100 startup aktif, Indonesia memegang posisi sebagai negara dengan jumlah startup terbanyak di Asia Tenggara. Capaian ini menempatkan Indonesia di atas Vietnam dan Singapura dalam hal kuantitas, namun daya saing ekosistem masih memerlukan penguatan.

Kemenperin menilai kualitas ekosistem menjadi kunci agar startup Indonesia tidak berhenti pada tahap inkubasi. Perusahaan rintisan harus mampu naik kelas, menarik minat investor, dan pada akhirnya berkontribusi pada hilirisasi industri nasional.

Menghubungkan Inovasi, Industri, dan Pasar Global

Pemerintah tengah mendorong terciptanya keterhubungan antara kebutuhan industri, inovasi startup, investor, dan pasar global. Langkah ini diambil agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar teknologi asing, melainkan pusat lahirnya inovasi industri yang berdaya saing.

Melalui skema SFI, Kemenperin berperan sebagai katalisator yang mempertemukan startup dengan pelaku industri manufaktur. Harapannya, solusi teknologi yang dikembangkan startup dapat langsung diuji dan diimplementasikan di lapangan, bukan hanya berhenti sebagai purwarupa.

Inisiatif ini sejalan dengan tren global di mana manufaktur modern mengandalkan integrasi teknologi digital untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan presisi. Adopsi robotik dan AI di lini perakitan, misalnya, dinilai mampu memangkas waktu produksi hingga 30 persen.

Bagi pelaku industri, kolaborasi dengan startup menawarkan akses terhadap inovasi tanpa harus membangun divisi riset dan pengembangan dari nol. Sementara bagi startup, keterlibatan dalam rantai pasok industri memberikan kepastian pendapatan dan validasi pasar yang dibutuhkan untuk menarik pendanaan lanjutan.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: dialeksis.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top