SERANG — Semangat kebersamaan warga Kampung Pekijing, Kelurahan Kalanganyar, Kota Serang, Banten, tengah diuji dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini. Mereka bahu-membahu menghabiskan waktu sekitar satu bulan untuk merampungkan kerajinan khas bernama Panjang Mulud.
Satibi, salah seorang warga setempat, menuturkan bahwa pengerjaan kerajinan ini dilakukan setiap malam secara gotong royong. Aturan yang mengikat kebersamaan itu pun cukup unik dan tegas.
"Bikin nya gotong royong setiap malam. Kalau ada warga yang tidak ikut bergotong royong, akan dikenakan denda Rp20.000," kata Satibi di Serang, Sabtu.
Tingkat kemegahan Panjang Mulud yang dibuat ternyata bergantung pada jumlah dana yang terkumpul dari masyarakat. Pada perayaan tahun ini, warga Kampung Pekijing menghabiskan bahan baku hingga lima kubik untuk menyelesaikan kerajinan tersebut.
Kerajinan hiasan yang didominasi bentuk satwa seperti macan dan kuda ini bukan sekadar tradisi seremonial belaka. Hasil penjualan Panjang Mulud nantinya akan disumbangkan sepenuhnya untuk mengisi kas masjid setempat, sekaligus menjadi modal produksi pada perayaan Maulid Nabi di tahun berikutnya.
Setelah proses pembuatan selesai, kerajinan ini diprioritaskan untuk kebutuhan perayaan warga setempat. Sisa yang tidak terpakai kemudian dijual kepada masyarakat luas dengan harga bervariasi.
Satibi menyebutkan, Panjang Mulud dibanderol mulai dari Rp200.000 untuk ukuran paling kecil, Rp350.000 untuk ukuran sedang, hingga Rp500.000 untuk ukuran paling besar. Meski jarang ada pesanan dari jauh hari, kerajinan ini biasanya laris manis dibeli warga luar daerah yang datang langsung melihat.
"Meski tidak banyak yang memesan dari jauh hari, biasanya kerajinan ini habis dibeli secara berurutan oleh warga dari luar daerah yang datang melihat langsung, seperti dari wilayah Ciomas," tambahnya.
Tradisi yang terus dirawat sejak tujuh tahun terakhir ini membuktikan bahwa nilai budaya bisa berjalan beriringan dengan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat.