BANTEN — Kami sempat meninjau langsung unit Nissan Fairlady Z yang dipajang di Hall 10 GIIAS 2026, Tangerang, pada Minggu (2/8). Perlu ditegaskan, ini adalah kesan pertama dari unit statis—kami belum sempat menjajalnya di jalan raya, jadi semua penilaian dinamis seperti handling dan kenyamanan berkendara baru bisa dikonfirmasi setelah unit tes tersedia.
Proporsi Z baru ini memang dirancang untuk terlihat seperti konsep. Kap mesinnya panjang, kabinnya mundur ke belakang, dan garis atapnya jatuh tegas—siluet yang langsung mengingatkan pada generasi 240Z era 70-an, tapi dibungkus panel bodi yang tajam dan modern.
Di bagian depan, lampu LED yang membentuk empat titik (mirip S30 asli) dan gril besar berbentuk trapesium memberi kesan garang. Yang menarik, material body kit di sekeliling mobil terasa solid, tidak ada celah-celah panel yang mencurigakan—sesuatu yang sering kami temui pada unit display pameran.
Kabinnya jelas dirancang dengan prioritas tunggal: pengemudi. Konsol tengah sedikit menghadap ke arah setir, dan posisi duduknya rendah—Anda benar-benar duduk "di dalam" mobil, bukan "di atas" mobil. Material dasbor menggunakan kombinasi kulit dan jahitan kontras yang terasa premium, tapi beberapa panel plastik di sekitar tombol AC masih terasa keras saat ditekan.
Layar digital 12,3 inci di belakang setir tajam dan responsif, dengan mode tampilan yang bisa diubah sesuai preferensi. Untuk urusan ruang, jangan berharap banyak: bagasi cukup untuk satu koper kabin, dan dua kursi belakang yang ada lebih tepat disebut sebagai rak barang daripada jok penumpang.
Di balik kap mesin, Nissan menyematkan mesin V6 3.0 liter twin-turbo yang menghasilkan 400 tenaga kuda dan 475 Nm torsi. Tenaga ini disalurkan ke roda belakang melalui dua pilihan transmisi: manual 6-percepatan atau otomatis 9-percepatan. Angka ini memang sedikit di atas GR Supra (388 hp), tapi perlu diingat bahwa bobot Z terbilang lebih berat—sekitar 1.600 kg untuk versi otomatis.
Untuk pasar Indonesia, Nissan hanya membawa varian dengan transmisi otomatis. Ini mungkin mengecewakan bagi purist yang menginginkan pengalaman mengemudi murni dengan pedal kopling, tapi untuk penggunaan harian di kemacetan kota besar, pilihan ini justru lebih realistis.
ProPILOT Assist—sistem bantuan pengemudi semi-otonom—hadir sebagai fitur standar. Ini mencakup adaptive cruise control dan lane keeping assist yang bekerja mulus di jalan tol. Namun, jangan berharap teknologi setara Nissan Ariya atau Serena e-POWER yang lebih canggih. Sistem kamera 360 derajat juga tersedia, tapi resolusinya terasa beberapa tahun di belakang kompetitor sekelasnya.
Nissan belum mengumumkan harga resmi untuk Indonesia. Berdasarkan posisinya di pasar global dan estimasi pajak progresif, kami memproyeksikan banderolnya akan berada di kisaran Rp 1,5 miliar hingga Rp 1,7 miliar (off the road). Dengan angka itu, Z akan bersaing langsung dengan Toyota GR Supra yang sudah lebih dulu mendarat di pasar, serta BMW Z4 M40i yang menawarkan pengalaman roadster berbeda.
Fairlady Z jelas bukan untuk semua orang. Ini adalah mobil untuk mereka yang mengutamakan karakter mesin dan gaya di atas segala hal—bukan untuk mereka yang butuh mobil harian praktis atau teknologi ADAS terkini. Jika Anda mencari mobil sport yang terasa istimewa setiap kali dinyalakan, dan tidak masalah dengan beberapa kompromi interior, Z ini layak masuk daftar tunggu.
Namun, jika prioritas Anda adalah nilai jual kembali yang stabil, jaringan dealer yang luas, atau fitur keselamatan paling canggih, Toyota GR Supra mungkin masih menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Keputusan akhir ada di tangan Anda—tapi setidaknya kini Anda tahu apa yang Anda bayar sebelum mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk DP-nya.