BANTEN — Penutupan yang ditandai seremoni singkat oleh Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si. itu menjadi penanda berakhirnya rangkaian kompetisi yang digelar dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80. Turnamen ini tidak hanya menjadi ajang pesta olahraga, tetapi juga titik start bagi para pemain untuk menapaki jenjang karier profesional yang lebih tinggi.
Faktor pembeda utama Kapolri Cup 2026 dari turnamen internal Polri sebelumnya adalah statusnya yang kini resmi masuk kalender nasional Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI). Konsekuensinya, setiap kemenangan yang diraih para atlet selama enam hari bertanding berkontribusi langsung terhadap akumulasi poin peringkat nasional.
“Terima kasih juga kepada Ketua Umum PBSI, karena Kapolri Cup menjadi salah satu event nasional yang diperhitungkan untuk menambah poin bagi para atlet yang akan berlaga di kelas yang lebih tinggi, kelas internasional,” ujar Kapolri dalam sambutannya.
Dengan adanya poin ini, pemain dari klub-klub daerah maupun jajaran Polda kini memiliki jalur konkret untuk menembus pelatnas atau turnamen BWF di masa mendatang.
Antusiasme tinggi terlihat dari komposisi peserta yang beragam. Dari total 1.219 atlet, kategori umum mendominasi dengan 591 pemain, disusul kategori Polri yang melibatkan 558 perwakilan dari Polda, Polres, dan satuan kerja Mabes Polri. Kategori para bulu tangkis turut memeriahkan ajang ini dengan keikutsertaan 70 atlet disabilitas.
Kolaborasi penyelenggaraan melibatkan Polri, PP PBSI, dan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI). Sinergi ini memastikan atlet penyandang disabilitas mendapatkan venue dan standar pertandingan yang setara dengan atlet umum.
Seluruh pertandingan terbagi di tiga lokasi berbeda: GOR Universitas Negeri Jakarta (UNJ), GOR Duren Sawit, dan GOR Pondok Bambu. Distribusi venue ini dirancang untuk mengakomodasi jadwal padat 1.219 pertandingan dalam enam hari.
Kapolri menegaskan bahwa pembinaan olahraga merupakan bagian dari pengabdian Polri kepada masyarakat. Ajang ini diharapkan menjadi ruang kompetisi sehat yang melahirkan generasi emas baru bulu tangkis Indonesia, sekaligus mempererat sinergi antara institusi keamanan, federasi olahraga, dan masyarakat sipil.
Turnamen resmi ditutup pada pukul 17.36 WIB dengan doa bersama. Seluruh rangkaian acara berjalan lancar tanpa insiden berarti, menegaskan kapabilitas Polri dalam mengelola event olahraga berskala nasional.