BANTEN — Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) mencatat pengoperasian sekitar 500 bus listrik Transjakarta memangkas biaya operasional armada besar hingga 5 persen dibanding bus berbahan bakar diesel. Penghematan itu disebut sudah terverifikasi sejak program elektrifikasi armada berjalan pada 2021, sekaligus membuka ruang perbaikan layanan bagi penumpang kelompok rentan dan disabilitas.
Southeast Asia Director ITDP Gonggomtua Sitanggang menyampaikan temuan tersebut dalam acara Evolution Indonesia Forum 2026 yang digelar CNN Indonesia di Studio II Gedung Transmedia, Jakarta. Menurutnya, elektrifikasi armada bukan sekadar penggantian mesin, melainkan pintu masuk untuk membenahi standar pelayanan Transjakarta secara menyeluruh.
"Kami gunakan opportunity juga untuk melakukan reformasi layanan," ujar Gonggomtua.
FGD dengan Penumpang Disabilitas Ubah Standar Layanan
Sebelum bus listrik masuk ke armada, ITDP menggelar focus group discussion bersama sejumlah pengguna Transjakarta, termasuk penumpang dari kelompok rentan dan penyandang disabilitas. Forum itu dipakai untuk memetakan kebutuhan riil pengguna harian, bukan sekadar meniru spesifikasi teknis dari operator luar negeri.
Hasilnya sejumlah fasilitas baru yang kini melekat pada armada listrik Transjakarta. Mulai dari papan audio visual berisi informasi waktu kedatangan real time, sampai tombol stop dengan huruf braille.
"Itu masukan untuk Transjakarta. Ketika mereka procure bus listrik, sudah ada itu," kata Gonggomtua.
Hemat 5 Persen, Sudah Terbukti di Lapangan
Perbandingan biaya operasional antara bus listrik dan bus konvensional berbahan bakar minyak menjadi poin utama yang diangkat ITDP. Untuk armada besar, selisihnya menyentuh 5 persen lebih rendah pada bus listrik.
- Jumlah bus listrik Transjakarta saat ini: sekitar 500 unit untuk kategori bus besar
- Penghematan biaya operasional: 5 persen lebih rendah dibanding bus ICE
- Titik awal pendampingan ITDP: 2021
- Fasilitas tambahan hasil FGD: papan audio visual real time dan tombol stop braille
"Penghematan biaya ini sudah terbukti. Transjakarta sudah ada sekitar 500 bus listrik di armadanya untuk bus besar, itu sudah 5 persen lebih rendah biaya operasional dibandingkan dengan bus ICE," ujar Gonggomtua.
Dorongan agar Elektrifikasi Tak Berhenti di Transjakarta
Angka penghematan 5 persen itu penting bagi operator bus daerah yang marginnya tipis. Biaya bahan bakar dan perawatan mesin biasanya menyerap porsi terbesar dari struktur biaya operasional, sehingga selisih sekecil apa pun berdampak langsung ke arus kas operator.
ITDP memandang pengalaman Transjakarta bisa direplikasi ke kota lain, asalkan pengadaan armada dibarengi perbaikan layanan sejak tahap perencanaan. Pendekatan yang dipakai bukan membeli bus listrik lalu menyesuaikan layanan belakangan, melainkan mendengar penumpang lebih dulu.
Forum tempat Gonggomtua berbicara mengusung tema Powering Indonesia's Future: Green Cars, Blue Skies, dan dibuka Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza. Sesi pertama membahas energi baru terbarukan, teknologi rendah emisi, serta peran industri dalam memperbaiki kualitas udara. Sesi kedua menyorot perkembangan kendaraan listrik, biofuel, kendaraan komersial rendah emisi, dan kebijakan pemerintah untuk mempercepat transformasi transportasi hijau.
Peta Pemangku Kepentingan di Ekosistem Mobilitas Rendah Emisi
Diskusi itu mempertemukan sejumlah pihak yang menentukan arah adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Dari sisi regulator, hadir Patia J Monangdo, Ketua Tim Kerja Industri Kendaraan Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di Direktorat IMATAP Kementerian Perindustrian.
Dari industri dan asosiasi, tampil Handojo K. Setyadi selaku Presiden Direktur PT Pollux Hotels Group Tbk, Suzanty Sitorus selaku Executive Director ViriyaENB, Sim Budiman Setiawan selaku Chairman Pusat Keterampilan Energi Terbarukan, Iman Kartolaksono Reksowardojo selaku Guru Besar Universitas Pertamina, serta Achmad Rofiqi selaku Wakil Ketua Umum Periklindo dan Senior Manager Marketing Communications MA.
Benang merah dari sesi-sesi tersebut: pengembangan sumber energi, inovasi teknologi kendaraan, kesiapan industri, infrastruktur pengisian daya, dan kebijakan pemerintah harus jalan seiring. Tanpa itu, penghematan biaya seperti yang dicapai Transjakarta sulit diulang di operator lain.