SERANG — Debu vulkanik yang sempat menyelimuti langit Banten dan sejumlah provinsi lain meninggalkan risiko kesehatan yang bertahan lebih lama dari erupsinya. Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Serang, dr. Rifian Arnanda, Sp.P, menyebut partikel abu vulkanik berukuran sangat kecil sehingga bisa menembus saluran pernapasan hingga bagian terdalam paru-paru.
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berlangsung sejak 4 September 2026. Kolom abu terlontar ke dua arah berbeda dengan ketinggian mencapai 20.000 kaki ke timur dan 50.000 kaki ke barat.
Warga di Serang dan sekitarnya termasuk kelompok yang berada di jalur sebaran abu. Meski aktivitas gunung disebut kemungkinan telah usai, Rifian menegaskan risiko peradangan paru tetap ada bagi mereka yang sempat terpapar.
Mengapa Debu Vulkanik Lebih Berbahaya dari Debu Biasa
Rifian menjelaskan debu vulkanik tidak sama dengan debu yang muncul dari aktivitas sehari-hari. Ukuran partikelnya jauh lebih halus dan mampu mencapai alveolus, kantong udara terkecil di paru-paru.
"Debu vulkanik berbeda dari debu biasa. Partikelnya bisa masuk sangat dalam ke paru-paru dan memicu peradangan serius, terutama pada mereka yang sudah memiliki kondisi pernapasan seperti asma atau PPOK," ujarnya.
Kelompok yang paling rentan mengalami gangguan meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru seperti asma dan PPOK. Orang dewasa sehat pun, kata Rifian, tetap berisiko bila sebelumnya terpapar abu dalam jumlah besar.
"Orang dewasa sehat pun tetap dapat mengalami gangguan apabila sebelumnya terpapar abu dalam jumlah cukup banyak," kata dr. Rifian.
Lima Gejala Pernapasan yang Perlu Diwaspadai
Warga yang sempat berada di wilayah terdampak diminta memperhatikan sejumlah tanda gangguan pernapasan berikut:
- Batuk kering terus-menerus disertai rasa gatal atau iritasi di tenggorokan.
- Sesak napas atau dada terasa berat, terutama setelah beraktivitas.
- Hidung tersumbat atau berlendir berlebihan.
- Mata merah, perih, dan berair akibat iritasi.
- Mengi atau napas berbunyi, khususnya pada penderita asma.
Cara Membersihkan Sisa Abu di Rumah dan Lingkungan
Endapan abu yang tersisa di halaman atau atap rumah sebaiknya tidak disapu dalam kondisi kering. Partikel halus bisa kembali beterbangan dan terhirup.
Metode basah lebih dianjurkan untuk menekan abu yang terangkat ke udara. Untuk kualitas udara dalam ruangan, pastikan ventilasi baik saat kondisi luar memungkinkan, dan gunakan air purifier berfilter HEPA bila partikel debu masih terdeteksi.
Saat berada di area yang masih berdebu, warga disarankan memakai masker penyaring partikel. Respirator seperti N95 memiliki kemampuan filtrasi lebih baik dibandingkan masker kain biasa.
Kapan Harus Segera ke Dokter
Keluhan pernapasan yang muncul dalam beberapa hari setelah paparan abu tidak boleh diabaikan, terutama bila menetap atau semakin parah. Warga diminta segera mencari pertolongan medis bila mengalami sesak napas yang memburuk, nyeri dada menetap, atau napas berbunyi disertai kesulitan berbicara.
Bibir atau ujung jari membiru, serta demam tinggi disertai gejala pernapasan, juga termasuk kondisi yang memerlukan pemeriksaan medis tanpa ditunda. Kelompok rentan dan mereka yang memiliki riwayat penyakit paru paling perlu memperhatikan tanda-tanda tersebut.
Layanan Skrining Paru untuk Warga Terdampak
Bethsaida Hospital Serang menyediakan layanan konsultasi dan skrining kesehatan paru dengan dukungan fasilitas diagnostik serta tenaga medis. Warga yang mengalami batuk berkepanjangan, sesak, atau napas berbunyi dapat berkonsultasi untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan.
Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya, menegaskan komitmen rumah sakit untuk hadir bagi masyarakat Banten, terutama saat kualitas udara menjadi ancaman nyata.
"Kami mengimbau seluruh masyarakat di wilayah yang sebelumnya terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk tidak meremehkan keluhan pernapasan yang muncul. Fasilitas dan tenaga medis kami siap memberikan pelayanan terbaik," pungkasnya.