BANTEN — Film "Clayface" dari Warner Bros. dan DC memuncaki box office Amerika Utara dengan pendapatan 24 juta dolar AS dari 3.458 bioskop pada pekan pembukaannya. Angka itu hanya selisih tipis dari dokumenter A24 berjudul "You Can See Everything" yang meraup 19,5 juta dolar AS di 2.655 lokasi pada pekan keduanya. Keduanya kini bersaing ketat di papan atas tangga film bioskop.
Dokumenter berdurasi tiga jam garapan Nathan Fielder dan Lance Oppenheim itu mencatat lonjakan 28 persen dari pendapatan pembukaannya sebesar 15,6 juta dolar AS di 855 bioskop. Capaian awal tersebut menjadi pembukaan terbaik untuk film dokumenter nonmusikal dalam 20 tahun terakhir.
Hingga kini, "You Can See Everything" telah mengumpulkan 45,1 juta dolar AS di pasar domestik Amerika Serikat. Film yang mengangkat kisah Elizabeth Holmes itu disebut-sebut berpeluang menjadi dokumenter pertama yang meraih nominasi Best Picture di ajang Oscar.
"Clayface" meraup 24 juta dolar AS, berada di batas bawah proyeksi Warner Bros. yang memperkirakan pendapatan 25 hingga 35 juta dolar AS. Film adaptasi antagonis Batman itu menambah 19 juta dolar AS dari 76 pasar internasional sehingga total globalnya mencapai 43 juta dolar AS.
Biaya produksi "Clayface" hanya 44 juta dolar AS, jauh lebih kecil dibandingkan proyek DC lainnya seperti "Supergirl" yang menelan 170 juta dolar AS dan berakhir dengan 126 juta dolar AS. "Superman" sendiri mencatat 618 juta dolar AS dengan modal 225 juta dolar AS.
Disutradarai James Watkins, "Clayface" mengikuti kisah seorang bintang film yang menjalani prosedur medis eksperimental setelah wajahnya rusak parah. Penonton menyambut film bergenre thriller body horror itu dengan nilai A- di CinemaScore.
"Selama bertahun-tahun ada belasan spin-off villain dan antihero superhero, dari 'Joker' sampai 'Venom' hingga 'Kraven the Hunter'," kata David A. Gross, penerbit buletin box office FranchiseRe.
"Film ini dirancang dengan cerdas sebagai sesuatu yang berbeda, dengan biaya sebagian kecil dari film-film itu, dan seharusnya menguntungkan saat semua lini pendapatan tambahan selesai," ujarnya.
Di posisi ketiga, film animasi stop-motion "Wildwood" dari Laika Studios membukukan 11 juta dolar AS dari 2.718 bioskop. Angka itu melampaui proyeksi 6 hingga 8 juta dolar AS dan menjadi awal menjanjikan bagi animasi orisinal yang belakangan lesu pasca-pandemi.
"Wildwood" mendapat nilai sempurna 100 persen di Rotten Tomatoes dan nilai A di CinemaScore. Meski begitu, biaya produksinya mencapai 100 juta dolar AS karena proses stop-motion memakan waktu bertahun-tahun, sehingga film ini kemungkinan sulit balik modal secara teatrikal.
"Ini pembukaan yang sangat bagus untuk film animasi baru dari luar sistem pengembangan dan distribusi studio," kata Gross. "Penonton menyukai film ini, tetapi butuh penayangan sangat panjang untuk menutup biayanya."
Disutradarai Travis Knight, "Wildwood" berkisah tentang seorang remaja perempuan yang masuk ke hutan terlarang bersama teman sekelasnya setelah adiknya diculik. Film ini baru mengumpulkan 3 juta dolar AS dari 11 pasar internasional.
Komedi romantis "Wicker" dari Black Bear menempati posisi kelima dengan 6 juta dolar AS dari 1.471 lokasi. Film berbiaya rendah itu dibeli Black Bear seharga 2,5 juta dolar AS setelah tayang di Sundance dan dibintangi Olivia Colman serta Alexander Skarsgård.
Sementara itu, "Klara and the Sun" arahan Taika Waititi terpuruk di posisi ke-15 dengan hanya 720.000 dolar AS dari 880 lokasi. Sony memangkas jumlah bioskop setelah ulasan tajam menyebut film adaptasi novel Kazuo Ishiguro itu gagal total.
Dengan modal produksi 20 juta dolar AS, kerugian "Klara and the Sun" diperkirakan tidak terlalu besar. Pekan ini menunjukkan bahwa film berbiaya rendah dan cerita orisinal masih punya ruang di tengah dominasi waralaba superhero.