TANGERANG — Festival yang berlangsung empat hari, 20–23 Oktober 2026, mempertemukan pelaku industri kecantikan dari berbagai negara. Selain Indonesia, delegasi datang dari Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Myanmar, Korea Selatan, Tiongkok, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Kazakhstan, Uzbekistan, Kirgistan, Rusia, Turki, Irak, Nigeria, Spanyol, Polandia, Jerman, Inggris Raya, Irlandia, dan Brasil.
Afriansyah Noor membuka acara pada Rabu (21/10/2026). Ia menyoroti bahwa keterampilan teknis saja tidak cukup bagi praktisi permanent makeup.
Menurut Afriansyah, tenaga kerja di bidang PMU perlu memahami etika profesi, standar pelayanan, serta aspek keselamatan pelanggan. Kombinasi keterampilan dan sikap profesional dinilai menjadi landasan menjaga mutu layanan sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.
"Kompetensi dan sertifikasi resmi adalah kunci utama agar tenaga kerja tidak hanya mahir secara teknis, tapi juga beretika, aman, dan berdaya saing global," kata Afriansyah.
Ia menjelaskan, standar kompetensi yang jelas membantu memastikan kemampuan tenaga kerja sesuai tuntutan pekerjaan. Pelatihan berkelanjutan juga diperlukan agar keterampilan praktisi tetap relevan dengan perkembangan teknik dan kebutuhan industri.
Festival tidak hanya menjadi forum pertemuan profesional, tetapi juga menghadirkan kompetisi keterampilan di bidang kecantikan. Kategori yang diperlombakan meliputi teknik eyeliner, bibir, dan alis.
Perwakilan dari sejumlah negara menampilkan demonstrasi teknik serta metode terbaru dalam praktik permanent makeup. Ruang ini memberi peserta kesempatan mempelajari pendekatan yang berkembang di berbagai pasar sekaligus memperluas wawasan profesional.
Pertemuan lintas negara tersebut membuka peluang memperkuat jejaring antarpelaku industri. Peningkatan reputasi sektor PMU Indonesia perlu diikuti penguatan kompetensi dan konsistensi standar layanan.
Afriansyah menekankan peningkatan kompetensi tenaga kerja membutuhkan keterlibatan pemerintah, pelaku industri, hingga lembaga pelatihan. Dialog dengan dunia usaha, pemetaan kebutuhan kompetensi, serta pelatihan berbasis praktik dinilai dapat menyelaraskan kemampuan tenaga kerja dengan kebutuhan industri.
Ia juga menilai kemitraan setara dan evaluasi hasil pelatihan perlu menjadi bagian strategi pengembangan sumber daya manusia. Dengan begitu, peningkatan kompetensi tidak berhenti pada proses pelatihan, tetapi diarahkan mendukung produktivitas dan memperluas kesempatan kerja.
"Mari kita bangun industri ini bersama-sama melalui ruang dialog yang terbuka, kemitraan yang setara, serta komitmen bersama untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja kita," tutur Afriansyah.
Melalui festival tersebut, Afriansyah berharap industri permanent makeup Indonesia terus berkembang dan memperkuat posisinya di tingkat internasional. Penguatan standar kompetensi dan sertifikasi profesi diharapkan membuka peluang lebih luas bagi tenaga kerja Indonesia di tengah persaingan global.