Sekum MUI Tangsel KH Abdul Rojak Ajak Santri Banten Rawat Marwah Pesantren lewat Ilmu, Akhlak, dan Pengabdian

Penulis: Tedy Rustandi  •  Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16:01 WIB
Sekum MUI Tangsel KH Abdul Rojak menyampaikan ajakan merawat marwah pesantren melalui ilmu, akhlak, dan pengabdian.

TANGERANG SELATAN — KH Abdul Rojak menilai pengembalian marwah santri tidak cukup dengan menghidupkan romantisme masa lalu. Tradisi keilmuan, penghormatan kepada guru, kemandirian, dan keberanian menghadapi persoalan masyarakat harus jadi wujud nyatanya. Pesantren, kata dia, punya posisi strategis membentuk generasi yang cerdas intelektual sekaligus matang moral.

Mengapa Marwah Santri Harus Dirawat Sekarang

Banten punya sejarah panjang melahirkan ulama dan menjaga tradisi keislaman. Identitas itu menuntut tanggung jawab bersama, terutama lewat penguatan pendidikan pesantren dan pembentukan akhlak. Bagi KH Abdul Rojak, santri tak boleh berhenti pada kebanggaan sejarah.

"Banten dikenal sebagai negeri sejuta santri. Identitas ini harus kita jaga bersama dengan memperkuat akhlak, meningkatkan kualitas ilmu, dan menumbuhkan semangat pengabdian. Santri jangan hanya bangga dengan sejarah pesantren, tetapi juga harus mampu meneruskan perjuangan para ulama melalui karya dan manfaat nyata bagi masyarakat," ujar KH Abdul Rojak, Kamis (22/10/2026).

Ia menegaskan marwah santri bertumpu pada tiga hal: ilmu, akhlak, dan pengabdian. Nilai pesantren dinilainya tetap relevan di tengah perubahan zaman, asalkan santri mampu menunjukkan manfaat konkret bagi lingkungan sekitarnya.

Pesan untuk Santri: Berilmu, Mandiri, dan Peduli Sesama

KH Abdul Rojak mendorong santri menjadi generasi yang siap memberi solusi atas persoalan masyarakat. Kemandirian dan kepedulian sosial disebutnya sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan pesantren.

"Marwah santri terletak pada ilmu, akhlak, dan pengabdiannya. Santri harus mampu menunjukkan bahwa nilai-nilai pesantren tetap relevan di tengah perubahan zaman. Kita ingin santri menjadi generasi yang berilmu, mandiri, peduli terhadap sesama, dan siap memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat," katanya.

Pendidikan pesantren, menurut dia, perlu terus berkembang tanpa kehilangan ciri khas sebagai pusat pembelajaran agama, pembentukan karakter, dan pengabdian sosial.

Sinergi dengan Program Pendidikan Pemprov Banten

Ajakan tersebut bersinggungan dengan arah pembangunan Pemprov Banten yang mendorong pemerataan akses pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui program Banten Cerdas, pemprov memperluas akses lewat pembangunan Unit Sekolah Baru (USB), Ruang Kelas Baru (RKB), serta Program Sekolah Gratis bagi sekolah swasta.

Pemprov Banten juga menyatakan komitmen memperkuat pendidikan pesantren melalui peningkatan kompetensi ustaz dan pengasuh pondok, penguatan literasi, serta dorongan agar santri melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. KH Abdul Rojak menilai pendidikan formal dan pesantren semestinya berjalan beriringan.

"Program pembangunan pendidikan harus kita dukung bersama. Pesantren merupakan bagian penting dari perjalanan pendidikan di Banten. Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan perlu diiringi dengan perhatian terhadap pengembangan pesantren, kualitas tenaga pendidik, serta kesempatan bagi para santri untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan potensinya," ujarnya.

Santri di Ruang Digital: Bijak Pakai Teknologi, Jaga Adab

Di era digital, Pembina Ikatan Media Online (IMO) Indonesia Banten ini mendorong santri memanfaatkan teknologi secara bijak. Media digital dinilainya bisa menjadi sarana menyebarkan ilmu, memperluas dakwah, dan menghadirkan pesan Islam yang menyejukkan.

Kemampuan itu tetap harus diimbangi adab, tanggung jawab, dan ketelitian dalam menyampaikan informasi. Santri diharapkan hadir sebagai pencerdas masyarakat, bukan memperkeruh suasana dengan informasi tak terverifikasi atau ujaran yang memecah belah.

"Santri harus mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri. Pegang teguh akhlak, hormati guru, terus belajar, dan gunakan teknologi untuk menyebarkan kebaikan. Dengan begitu, santri dapat menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat," tuturnya.

Harapan: Kolaborasi Pemerintah, Ulama, dan Masyarakat

Sinergi antara pemerintah, ulama, pengelola pesantren, keluarga, dan masyarakat disebutnya kunci agar pembangunan pendidikan tak berhenti pada fasilitas. Hasil yang dibidik adalah generasi berkarakter, berdaya saing, dan punya kepedulian sosial.

Dalam konteks Banten sebagai negeri sejuta santri, santri diharapkan mengambil bagian dalam pembangunan ekonomi kerakyatan, pendidikan, kemanusiaan, dan penguatan kerukunan sosial. Mereka dapat berkiprah di berbagai profesi tanpa meninggalkan nilai pesantren yang menjadi fondasi pembentukan karakter.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: beritabanten.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top