SERANG — Pelaksana Tugas Kepala BBMKG Wilayah II, Ana Oktavia Setiawati, menyatakan awal musim hujan tahun ini bergeser hingga tiga dasarian dari normalnya. Pergeseran itu membuat durasi kemarau di Banten utara berlangsung lebih lama dibanding tahun-tahun biasa.
BBMKG mencatat wilayah selatan Banten, khususnya Lebak, akan memasuki musim hujan lebih dulu pada November 2026. Sementara Banten bagian utara diprediksi baru mulai diguyur hujan pada Desember 2026.
Ana menjelaskan, mundurnya musim hujan dipicu fenomena El Nino yang menggeser intensitas hujan ke wilayah Samudra Pasifik. Dampaknya, massa udara basah tidak sampai ke Banten sesuai jadwal normal.
"Karena adanya fenomena El Nino yang mengakibatkan intensitas hujannya itu tertarik gitu ya. Jadi tertarik ke wilayah Samudra Pasifik, sehingga kita musim hujannya itu mundur daripada normalnya," kata Ana di Gedung Negara Banten, Rabu (7/10/2026).
BBMKG memperkirakan tingkat kekeringan tahun ini berpotensi setara dengan kondisi 2023. Ana meminta pemerintah daerah dan warga menyiapkan langkah antisipasi sejak dini.
Durasi musim hujan yang lebih pendek berpotensi menekan cadangan air tanah dan waduk. Kondisi itu berimbas langsung pada ketersediaan air bersih bagi warga di sejumlah kabupaten/kota Banten utara.
Sektor pertanian juga menghadapi risiko serupa. Petani diminta menyesuaikan pola tanam dengan perkiraan datangnya hujan agar kebutuhan air irigasi bisa dihitung sejak awal musim.
Di sisi kesehatan, Ana mengingatkan penurunan kualitas udara selama kemarau panjang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Selain kekeringan, BBMKG mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi begitu hujan mulai turun. Tanah yang merekah akibat kemarau panjang lebih rentan longsor ketika diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
"Karena kekeringan yang sangat panjang, sehingga tanah-tanah itu menjadi merekah. Nah, pada saat terjadi hujan, ini potensi terjadinya tanah longsor ini menjadi lebih besar daripada biasanya," ujar Ana.
BBMKG merekomendasikan survei bersama Pemprov Banten untuk memetakan wilayah yang butuh penanganan lebih awal. Ana juga menegaskan hujan yang sempat turun di beberapa wilayah Banten bukan penanda masuknya musim hujan.
Hujan tersebut muncul akibat dinamika atmosfer, seperti gelombang Kelvin dan gelombang Rossby yang membawa massa udara ke wilayah Banten.
Gubernur Banten Andra Soni menyatakan prediksi BBMKG itu perlu diantisipasi serius. Ia menyoroti tiga hal sekaligus: mundurnya musim hujan, distribusi hujan yang tidak merata, dan durasi hujan yang lebih pendek.
"Beberapa hal disampaikan dan yang disampaikan ini patut kita antisipasi, salah satu adalah terkait dengan mundurnya musim hujan, dan kemudian tidak meratanya hujan, dan kemudian durasi yang pendek daripada hujan, dan kemudian dampak daripada kekeringan ini terkait dengan potensi bencana," kata Andra.
Andra meminta organisasi perangkat daerah terkait melakukan survei bersama untuk menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih awal. Langkah itu diambil agar mitigasi bisa disusun sebelum hujan pertama turun.
"Saya memberikan arahan kepada dinas terkait untuk melaksanakan survei bersama sehingga kita bisa memitigasi apa yang harus kita kerjakan dan hal-hal lain," ujarnya.