TANGERANG — Sebuah pohon dewandaru di sudut Kelenteng Tjoe Soe Kong, Tanjung Kait, Kecamatan Mauk, menyimpan cerita yang melampaui ukuran fisiknya. Bagi sebagian pengunjung dan warga sekitar, buah merah kecil yang jatuh dari dahannya bukan sekadar buah matang, melainkan sebuah pertanda baik.
Tanaman yang dalam bahasa Latin bernama Eugenia uniflora ini sebenarnya berasal dari Brasil. Di Indonesia, buah ini lebih dikenal dengan sebutan cermai Belanda atau asam selong. Secara botani, pohon perdu ini masih satu kerabat dengan keluarga jambu-jambuan (Myrtaceae).
Mitos yang berkembang menyebutkan, siapa pun yang kejatuhan buah dari pohon tua tersebut akan memperoleh keberuntungan. Maknanya bahkan meluas, tidak hanya soal rezeki, tetapi juga jodoh, keselamatan, hingga kenaikan derajat.
Nenek Rumi, warga Desa Tanjung Kait yang pernah berusia sekitar 75 tahun, merupakan salah satu yang akrab dengan cerita ini. Bertahun-tahun lalu, ia kerap beristirahat di bawah pohon tersebut dan meyakini bahwa daun atau buah yang jatuh menimpanya adalah isyarat baik.
Pohon ini laksana undian berhadiah dari alam. Bedanya, tak perlu membeli kupon untuk ikut serta. Cukup duduk menunggu di bawahnya, meski tanpa jaminan buah akan jatuh atau rezeki benar-benar datang.
Kepercayaan serupa tidak hanya hidup di pesisir utara Banten. Di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur, pohon dewandaru juga memiliki nilai mistis yang kuat. Masyarakat setempat meyakini buah yang jatuh dari pohonnya adalah pertanda keberuntungan, dan ada larangan untuk memetik atau menggoyang batangnya.
Di Gunung Kawi, pohon ini dikaitkan dengan kisah Eyang Jugo atau Eyang Junggo. Konon, batang dewandaru tersebut berasal dari tongkat yang dibawa tokoh yang dikeramatkan di tempat itu.
Dari situlah buah sianto mendapat tempat khusus dalam lanskap kepercayaan masyarakat. Ia berada di persimpangan antara ruang ibadah, tradisi lisan, dan sejarah lokal.
Terlepas dari mitos, buah dewandaru yang matang memiliki rasa manis, sementara yang masih muda terasa asam. Di balik rasanya, buah ini tercatat mengandung protein, karbohidrat, kalsium, magnesium, fosfor, kalium, serta vitamin C dan A.
Beberapa sumber juga menyebut adanya senyawa seperti kaempferol, myricetin, dan quercetin dalam buah ini. Namun, kadar nutrisi tersebut dapat berbeda-beda tergantung pada varietas, tingkat kematangan, dan metode pengukuran.
Karena itu, mitos yang menyelimuti buah sianto sebaiknya diposisikan sebagai warisan budaya, bukan klaim kesehatan atau jaminan kekayaan. Manusia memang kerap memberi makna pada hal-hal yang sulit dijelaskan akal sehat.
Buah yang jatuh bisa jadi sekadar kebetulan fisika. Tetapi di tengah masyarakat yang memelihara cerita, kebetulan itu berubah menjadi narasi harapan yang diwariskan.
Di bawah pohon dewandaru Tanjung Kait, buah sianto memiliki dua wajah. Satu sisi ia adalah buah tropis dari Brasil. Sisi lainnya, ia adalah simbol keberuntungan yang membuat orang rela menanti di bawah naungannya.
Kekuatan mitos ini justru terletak pada kemampuannya bertahan—diceritakan, dipercaya, lalu diwariskan kepada generasi berikutnya. Bukan karena menjanjikan kekayaan, melainkan karena dari buah kecil bernama sianto, masyarakat menemukan cerita besar tentang harapan.