BANTEN — Pengujian Razr Fold dilakukan di area Lavela Greenlake City, Jakarta, dengan fokus pada kemampuan kamera dan ketahanan baterai harian. Dari judulnya saja sudah jelas: Motorola tidak main-main dengan daya tahan dan sistem fotografi. Perangkat ini menjadi penantang serius di kelas foldable yang selama ini didominasi nama-nama besar, meskipun harus dibayar dengan konsekuensi fisik yang cukup terasa.
Desain dan Bodi: Perangkat Ambisius yang Gemuk
Ketika dilipat, ketebalan Razr Fold hampir mencapai 1 cm, dan tonjolan modul kamera menambah sekitar setengah sentimeter lagi. Bobotnya pun 243 gram, angka yang tidak bisa dianggap enteng untuk perangkat yang akan digunakan seharian. Motorola jelas mengorbankan ergonomi demi memasukkan spek gahar.
Saat dibuka, perangkat ini berubah menjadi tablet mini dengan layar 8,1 inci yang luas. Tingkat kecerahan puncak disebut mencapai 6.200 nits, membuatnya nyaman digunakan di bawah sinar matahari langsung untuk membaca dokumen atau mengedit foto.
Namun, rasa berat dan tebal ini adalah kompromi yang harus dibayar pengguna. Untuk kategori ponsel lipat, ukuran tersebut memang bukan hal aneh, tetapi untuk perangkat premium yang dijanjikan serba bisa, kenyamanan genggaman tetap elemen penting yang masih kurang dieksekusi dengan baik.
Performa dan Daya Tahan: Mengguncang Kebiasaan Ponsel Lipat
Di balik layar lipatnya, tertanam chipset Snapdragon 8 Gen 5, RAM 12 GB, dan penyimpanan internal 256 GB. Spesifikasi ini memastikan multitasking berat, gaming, dan editing video berjalan mulus tanpa hambatan berarti.
Klaim paling berani ada pada baterai. Kapasitasnya 6.000 mAh mengalahkan mayoritas pesaing di kelas lipat, didukung pengisian kabel 80 watt dan nirkabel 50 watt. Ini adalah jawaban atas keluhan klasik pengguna ponsel lipat yang selalu gelisah dengan daya tahan. Di atas kertas, kombinasi ini menjanjikan perangkat bisa dipakai dari pagi sampai malam tanpa drama mencari colokan listrik di tengah hari.
Sistem Kamera: Telefoto Periskop yang Langka
Motorola tidak setengah hati meracik sistem kamera. Ada tiga lensa belakang semuanya beresolusi 50 MP, mencakup kamera utama, ultrawide, dan telefoto periskop. Lensa utama menggunakan sensor Sony Lytia berukuran 1/1,28 inci dengan bukaan f/1.6 dan stabilisasi gambar optik.
Kehadiran lensa telefoto periskop 3x setara 71 mm menjadi nilai jual utama. Fitur ini jarang ditemui di ponsel lipat. Kamera ini punya stabilisasi sendiri dan didukung zoom digital hingga 100x berbantuan AI. Ini membuka fleksibilitas komposisi yang tidak bisa dilakukan kamera utama, misalnya memotret subjek dari kejauhan tanpa kehilangan detail.
Lensa ultrawide 12 mm ekuivalen dengan sudut pandang 122 derajat melengkapi paketnya. Sensornya memang kecil (1/2,76 inci), tetapi bukaan f/2 tetap membuatnya berguna untuk foto arsitektur atau lanskap di ruang sempit.
Karakter Warna yang Sinematik, Bukan Generik
Hasil jepretan Razr Fold tidak seperti kebanyakan ponsel yang mengejar warna vivid dan kontras tinggi. Motorola menghadirkan tone yang lebih dingin, dengan rona biru yang sedikit condong ke hijau. Karakter ini terasa sinematik dan tidak generik, meskipun selera soal warna selalu subjektif.
Saya mencoba memotret di area outdoor bernuansa Eropa saat sore hari. Dengan mode bawaan seperti Nordic Vibrant dan Tokyo Natural, foto tetap tajam dan detail. Saat cahaya mulai redup menjelang senja, kualitasnya masih meyakinkan. Mode portrait juga bekerja baik; tingkat penghalusan kulit dan bokeh bisa diatur, dan pada level 2 hasilnya terlihat paling natural.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
- Baterai 6.000 mAh terbesar di kelasnya dengan dukungan charging kabel 80W dan nirkabel 50W.
- Sistem tiga kamera 50 MP yang lengkap, termasuk telefoto periskop 3x yang jarang ada di foldable.
- Layar dalam sangat luas (8,1 inci) dengan tingkat kecerahan tinggi yang nyaman di luar ruangan.
- Performa Snapdragon 8 Gen 5 dan RAM 12 GB menjamin multitasking berat.
- Layar sampul bisa dipakai untuk selfie dengan kamera belakang yang kualitasnya jauh lebih baik.
Kekurangan:
- Bobot 243 gram dan ketebalan hampir 1 cm saat dilipat, ditambah tonjolan kamera yang signifikan, kurang nyaman untuk penggunaan satu tangan.
- Desain fisik terasa belum seimbang—fitur yang melimpah mengorbankan kepraktisan harian.
- Karakter warna foto yang dingin mungkin tidak cocok untuk pengguna yang suka hasil jepretan langsung "jadi" tanpa edit.
Verdict: Untuk Siapa Motorola Razr Fold Ini Dibuat?
Razr Fold adalah pernyataan ambisi Motorola, bukan sekadar produk nostalgia. Ia menargetkan pengguna yang menginginkan foldable tanpa kompromi soal daya tahan dan kamera. Fotografer mobile yang butuh fleksibilitas telefoto akan betah, begitu juga profesional yang butuh baterai seharian penuh untuk produktivitas.
Namun, jika kenyamanan genggaman dan bobot adalah prioritas utama, perangkat ini bukan pilihan termudah. Generasi pertama ini terasa seperti fondasi yang kuat dengan beberapa blunder di sektor desain. Motorola berhasil membuat ponsel lipat yang fiturnya sulit diabaikan, tetapi butuh generasi lanjutan untuk menemukan keseimbangan antara kelengkapan dan kepraktisan.