PANDEGLANG — Dalam pertemuan yang digelar Senin, 26 Oktober 2026, Uci menyampaikan sejumlah catatan internal organisasi. Ia menilai kaderisasi tidak berjalan semestinya dan penguatan kader nyaris tidak ada.
Dampaknya, kata Uci, langsung terasa di tingkat pimpinan terbawah. Struktur di bawah tidak mendapat pendampingan dan pengarahan dari tataran atas.
Uci memakai ukuran sederhana untuk menilai berhasil atau tidaknya sebuah kepengurusan. Yakni masifnya kegiatan dan solidnya struktur dari pusat hingga akar rumput.
Interaksi intens lewat forum formal maupun informal disebutnya sebagai kunci melahirkan kader tangguh. Kader semacam itu dinilai punya daya saing tinggi.
“Dengan banyaknya pertemuan dan kegiatan, kita bisa bersilaturahmi dan menyelesaikan berbagai persoalan organisasi. Kegiatan akan berjalan kalau strukturnya kuat dan solid,” kata Uci.
Uci juga menyoroti mentalitas sebagian pengurus yang dinilai pasif. Ia menuntut komitmen total seluruh jajaran struktural agar roda organisasi bergerak tajam.
Soal pengisian kepengurusan, Uci mengingatkan satu hal mendasar. Menjadi pengurus bukan sekadar menempelkan nama di struktur.
“Tapi juga harus diurus dan mengurusi,” ujarnya.
Catatan paling keras Uci menyangkut kehadiran IPNU di lembaga pendidikan berbasis Nahdlatul Ulama. Menurutnya, masih banyak sekolah, pondok pesantren, dan perguruan tinggi NU yang belum tersentuh IPNU.
Padahal, tiga sektor itu disebutnya sebagai pilar utama penopang masa depan organisasi. Jika diabaikan, IPNU terancam kehilangan pasokan generasi penerus potensial.
“IPNU harus muncul dan hadir dalam berbagai instansi. Masih banyak sekolah, pondok pesantren, dan juga kampus yang berbasis NU, akan tetapi tidak ada kehadiran IPNU, padahal keberlangsungan organisasi potensinya ada di situ,” kata Uci.
Kongres IPNU ke-XXI dijadwalkan berlangsung 26–30 November 2026 di Pondok Pesantren Darul Amanah, Kendal, Jawa Tengah. Uci berharap forum itu tidak melahirkan regulasi mandul.
Produk undang-undang dan kebijakan hasil kongres, katanya, harus menyentuh kebutuhan nyata hingga Pimpinan Ranting di desa dan Pimpinan Komisariat di sekolah serta pesantren.
Siapa pun yang nanti mendapat amanah memimpin IPNU pusat, lanjut Uci, memikul tanggung jawab moral besar. IPNU pusat diminta memperkuat kaderisasi dan merawat akar rumput.
“Jagalah regenerasi, perkuat ranting, dan buka ruang seluas-luasnya bagi kader untuk bertumbuh dan berkontribusi,” katanya.