TANGERANG SELATAN — Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Lilis Suryani, menyebut pos gizi bukan sekadar tempat pelayanan kesehatan. Fasilitas itu juga menjadi sarana edukasi bagi orang tua untuk memenuhi kebutuhan gizi dan memantau tumbuh kembang anak.
Penanganan masalah gizi, kata Lilis, butuh keterlibatan bersama antara pemerintah, pihak kewilayahan, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Ia meminta orang tua tidak berkecil hati ketika anaknya terdeteksi mengalami masalah gizi.
Di Kelurahan Pondokpucung, Kecamatan Pondokaren, stunting menjadi perhatian pemerintah. Data yang disampaikan dalam peresmian Pos Gizi Gemintang mencatat 26 kasus stunting, dengan 20 kasus baru sepanjang Januari hingga Agustus.
Perhatian serupa diberikan kepada ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis dan anemia. Di wilayah tersebut tercatat 30 ibu hamil masuk kategori itu.
"Kalau tidak terdeteksi, nanti bisa berkelanjutan lebih parah lagi. Jadi, kita bersama-sama menyelesaikan masalah itu," kata Lilis saat peresmian Pos Gizi Gemintang, Selasa, 20 Oktober 2026.
Kegiatan pos gizi diisi pemberian makanan tambahan kepada balita selama tiga bulan. Kader pos gizi juga memberi edukasi kepada orang tua mengenai penyusunan menu bergizi, pemenuhan nutrisi, serta pemantauan tumbuh kembang anak.
"Dengan begitu, orang tua diharapkan mampu menerapkan pengetahuan tersebut secara mandiri di rumah," jelas Lilis.
Pemkot Tangsel menjajaki kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar pemberian makanan tambahan berlanjut setelah program tiga bulan berakhir.
Camat Pondokaren, Hendra, mengapresiasi seluruh pemangku kepentingan yang bersinergi menjalankan program pelayanan kesehatan. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan pengurus lingkungan dinilai menjadi kunci agar manfaat program dirasakan optimal.
"Dalam melaksanakan program-program pemerintah, ini adalah kerja bersama. Ibu-ibu harus mendukung, masyarakat juga harus mendukung dan membantu kita bekerja sama," ujarnya.
Hendra menambahkan, koordinasi antara camat, lurah, pengelola SPPG, ketua RT dan RW, serta pemangku kepentingan lain perlu terus diperkuat. Dengan komunikasi yang baik, berbagai persoalan di lapangan dapat ditangani bersama.
Sekretaris Dinkes Kota Tangsel, Syahlan King Syahnan Siregar, menyebut masa balita sebagai periode penting. Pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan belajar, dan pembentukan keterampilan dasar berlangsung pesat pada fase itu.
Anak perlu asupan gizi cukup, pola asuh tepat, stimulasi sesuai usia, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan secara berkala.
"Pos gizi bukan hanya tempat untuk memberikan makanan tambahan kepada anak. Pos gizi juga menjadi ruang belajar, ruang pengasuhan, dan ruang kolaborasi bagi keluarga," ujarnya.
Melalui program itu, balita mendapatkan makanan dengan prinsip gizi seimbang dan sumber protein yang cukup. Pemkot Tangsel berharap penambahan pos gizi dan penguatan edukasi mampu menekan munculnya kasus baru sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.