BANTEN — Promosi ini menjadi puncak perjalanan dramatis yang dimulai dari keterpurukan di kasta keempat. Sembilan tahun lalu Coventry masih bersiap menghadapi musim pertama di League Two setelah 59 tahun absen, dan sempat dua kali menjadi tim "gelandangan" karena harus bermain di Northampton (2013-14) serta berbagi stadion dengan Birmingham City (2019-2021).
Frank Lampard mengakui tantangan terbesar timnya adalah adaptasi terhadap ritme Premier League. Dari seluruh skuad, hanya tujuh pemain yang memiliki pengalaman bermain di divisi teratas, dengan gelandang Gus Hamer sebagai yang paling sering tampil yakni 34 pertandingan bersama Sheffield United.
"Sebagian dari itu adalah hal bagus: kami antusias, lapar, dan para pemain ingin menunjukkan mereka pantas berada di sini," ujar Lampard. "Tapi kami juga harus bekerja untuk membantu skuad menjembatani kesenjangan itu."
Coventry tidak berdiam diri di bursa transfer. Kedatangan gelandang Ghana Caleb Yirenkyi dari FC Nordsjælland dengan nilai rekor klub £23 juta atau sekitar Rp 470 miliar menjadi sinyal ambisi mereka. Beberapa pemain kunci musim lalu seperti Milan van Ewijk, Jack Rudoni, dan Carl Rushworth yang dipermanenkan dari Brighton juga dinilai siap naik kelas.
Catatan ofensif mereka musim lalu menjadi modal berharga. Coventry menjadi tim dengan koleksi gol terbanyak di empat kasta tertinggi sepak bola Inggris dengan 97 gol. Dari 46 pertandingan Championship, mereka hanya kalah tujuh kali dan cuma dua kekalahan terjadi di kandang sendiri.
Keputusan Doug King memecat Mark Robins sempat memicu kemarahan suporter. Namun hasil akhir musim membuktikan langkah itu tepat. Kini nama King justru diteriakkan para fans, bahkan ada yang berdandan menyerupai dirinya dengan wig dan dasi biru langit untuk mencoba masuk ruang VIP.
"Mereka mencoba menggombali diri ke ruang dewan... tapi saya jauh lebih tampan dari mereka," kelakar King. Popularitasnya kian melejit setelah membeli stadion setahun lalu dan memboyong band Take That untuk konser tiga malam berturut-turut di venue tersebut.
Para peramal Guardian menempatkan Coventry di posisi 18 atau zona degradasi pada akhir musim. Namun Lampard, yang dinobatkan sebagai manajer terbaik versi League Managers Association, justru melihat ini sebagai tantangan yang dinanti.
"Kami sudah memenangkan banyak pertandingan di klub ini setahun terakhir — akan jauh lebih sulit melakukannya di Premier League," kata pelatih yang pernah menukangi Chelsea dan Derby County itu. "Saya tidak takut akan hal itu. Kami harus antusias menghadapinya."
Promosi ini juga mengharuskan Coventry mematuhi regulasi Premier League, termasuk mengurangi kapasitas stadion sekitar 300 kursi untuk pemasangan gantry kamera. Klub meluncurkan museum baru bertajuk "The Journey Back" yang menceritakan perjalanan dari masa tanpa kandang hingga kembali ke papan atas.