CILEGON — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon mencatat kualitas udara di wilayahnya berada pada kategori sedang pascaerupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan DLH Kota Cilegon, Deny Yuliandi, menyatakan hasil itu diperoleh dari pemeriksaan stasiun pemantau kualitas udara AQMS di Merak.
Dari tujuh parameter yang diukur, mayoritas masih menampilkan indikator hijau. Artinya, kondisi udara Cilegon secara umum tergolong aman.
Hanya satu parameter yang bergeser, yakni Particulate Matter (PM) 2,5 atau partikulat debu. Parameter ini berada di indikator biru atau kategori sedang.
Debu Vulkanik Naik, Tapi Tidak Menuju Pusat Kota
Deny menjelaskan, kenaikan partikulat debu berhubungan langsung dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang belum berhenti. Meski begitu, abu vulkanik yang sampai ke daratan Cilegon relatif terbatas.
Faktor alam jadi penentu. Berdasarkan pantauan arah angin, massa udara saat ini bergerak menuju Samudra Hindia dan wilayah Lampung, bukan ke pusat Kota Cilegon.
"Pasca erupsi abu vulkanik GAK, Memang terjadi kenaikan debu yang ditimbulkan oleh aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sehingga kondisi udara di Cilegon katagori biru atau katagori sedang," kata Deny, Kamis (10/9/2026).
"Ini yang menyebabkan paparan abu vulkanik lebih banyak jatuh ke wilayah barat dan utara (perairan-red) sehingga tidak membawa dampak buruk yang signifikan ke daratan Cilegon," jelasnya.
Warga Diminta Pakai Masker dan Kacamata
Kendati kualitas udara masih di level sedang, DLH meminta warga tetap waspada. Perlindungan diri dinilai penting, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan.
Deny mengimbau penggunaan masker dan kacamata untuk mengurangi risiko paparan debu vulkanik. Warga juga diminta membatasi kegiatan di luar ruangan bila tidak mendesak.
"Kita menghimbau agar masyarakat tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, menggunakan kacamata untuk menghindari iritasi debu dan meminimalisir kegiatan di luar lapangan jika tidak mendesak selama proses erupsi masih berlangsung," sambungnya.
Selain itu, masyarakat diharapkan mengikuti perkembangan informasi resmi soal aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi kualitas udara dari pemerintah serta instansi terkait.
Pemantauan Diperbarui Tiap Jam
Pemerintah Kota Cilegon melalui DLH masih melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala. Data hasil pemantauan diperiksa setiap jam untuk memastikan perkembangan kondisi udara di wilayah Cilegon.
Pemantauan itu turut mempertimbangkan perubahan aktivitas vulkanik serta arah dan kecepatan angin yang bisa memengaruhi sebaran abu vulkanik.
"Pelaporan status kualitas udara akan terus diperbarui mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik dan arah angin," pungkasnya.