Tangerang Selatan Jadi Titik Kumpul Pendekar Setia Hati, Tradisi Pencak Silat Terus Dijaga

Penulis: Ujang Rahmat  •  Selasa, 27 Oktober 2026 | 14:25:15 WIB
Festival Pencak Silat Tradisi Persaudaraan Setia Hati digelar di Tangerang Selatan

TANGERANG SELATAN — Di tengah laju urbanisasi dan pesatnya arus digitalisasi yang kerap menggerus nilai-nilai lokal, dentang kendang dan langkah tegap para pesilat justru bergema nyaring di Tangerang Selatan, Banten. 

Sebagai bentuk perlawanan kultural terhadap luruhnya identitas lokal, Persaudaraan Setia Hati menyelenggarakan"Festival Pencak Silat Tradisi" Pertama secara akbar pada 24-25 Oktober 2026.

Perhelatan ini bukan sekadar panggung unjuk kelenturan gerak dan ketajaman jurus, melainkan sebuah laku nyata dalam membumikan kembali nilai-nilai luhur Pencak Silat sebagai fondasi utama karakter bangsa. 

Antusiasme dalam merawat ingatan dan tradisi itu kental terasa dengan hadirnya delegasi dari berbagai penjuru Nusantara. Ratusan pesilat, sesepuh, dan pelestari tradisi—mulai dari Batam di ujung barat, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah hingga Jawa Timur—tumpah ruah di Tangerang Selatan. 

Kehadiran mereka menyatukan kembali simpul-simpul sejarah dan kekerabatan yang telah dirajut sejak era para pendahulu, membuktikan bahwa jarak geografis tidak pernah menjadi halangan bagi sebuah ikatan persaudaraan yang sejati.

Acara Festival Pencak Silat Tradisi Persaudaraan Setia Hati dibuka oleh plt Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Tangerang Selatan H Ika SE,MM dengan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya acara ini. 

“Pencak silat merupakan pelestarian tradisi dan warisan leluhur yang harus terus dijaga. Dalam pencak silat mengandung nilai keberanian. Kedisiplinan, kesantunan dan penghormatan kepada sesama. Tradisi ini harus terus dijaga agar tidak punah digerus oleh perubahan bangsa saat ini, ” detail oleh Ika. 

Ketua Pengurus Daerah (Pengda) Banten Persaudaraan Setia Hati, Bapak Dody Handoko, selaku tuan rumah penyelenggara, tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan kebanggaannya atas soliditas para pesilat yang hadir. 

Festival ini akan menjadi agenda rutin tahunan yang memperebutkan piala bergilir Tropi Eyang Munandar sebagai tokoh pendiri Persaudaraan Setia Hati yang berorganisasi pada tahun 1932. 

”Ini adalah sebuah kehormatan yang teramat besar bagi Banten, dan khususnya Tangerang Selatan, yang pada hari ini dipercaya menjadi titik kumpul agung bagi para pelestari tradisi dari seluruh penjuru negeri. Kehadiran saudara-saudara dari Batam, Jakarta, Jawa Timur, dan seluruh Pengda se-Indonesia membuktikan bahwa persaudaraan kita sungguh melampaui batas-batas administratif wilayah. Di atas matras dan di dalam arena ini, kita semua pulang ke rahim yang sama, yaitu tradisi Setia Hati,” ungkap Dody Handoko, Minggu (25/10/2026).

Penyelenggaraan festival berskala nasional ini nyatanya berakar kuat pada cetak biru yang telah digagas dan disusun secara komprehensif dalam proposal kegiatanbeberapa waktu silam. 

Arahan dari proposal tersebut menitikberatkan pada satu pilar utama: kemurnian tradisi. Ketua Panitia Festival, Hanif Setyo Nugroho, memaparkan bahwa keaslian tradisi Pencak Silat, sejarah, serta sanad keilmuan harus terus diedukasikan kepada generasi muda agar tidak terputus. 

Rangkaian acara ini juga didesain untuk menelusuri kembali akar historis dan persebaran silsilah Persaudaraan Setia Hati, mulai dari jejak leluhur Ki Ngabehi Soerodiwirdjo sampai Eyang Munandar hingga perkembangannya di berbagai wilayah Indonesia.

”Tujuan utama dari festival ini, sebagaimana yang telah kami tuangkan secara matang dalam proposal, adalah murni untuk pelestarian tradisi dan menjaga kemurnian ajaran Persaudaraan Setia Hati. Kami ingin mengedukasi generasi penerus bahwa silat bukan semata olah fisik atau olahraga yang mengejar medali, melainkan jalan panjang (way of life) untuk membentuk budi pekerti luhur. Lewat perjumpaan saudara-saudara dari seluruh Indonesia ini, kami berharap kelestarian tradisi tetap terjaga teguh dan tidak lekang oleh zaman,” tegas Hanif.

Menyelaraskan Napas Tradisi dengan Visi Asta Cita Nilai-nilai kebangsaan yang dihidupkan dalam Persaudaraan Setia Hati nyatanya beririsan sangat erat dengan arah pembangunan manusia Indonesia saat ini. 

Di tengah tantangan global, Pencak Silat mengambil peran sebagai benteng moral. Ketua Pengurus Besar (PB) Persaudaraan Setia Hati, Bapak Puji Handoko, menekankan bahwa menjaga marwah tradisi adalah wujud nyata kontribusi pesilat terhadap eksistensi negara.

”Pencak Silat tradisi adalah akar terdalam dari identitas kita sebagai sebuah bangsa. Tanpa pemahaman tradisi dan adab yang kuat, silat hanya akan menjadi cangkang kosong dan kehilangan ruh persaudaraannya. Upaya pelestarian budaya ini sangat selaras dengan visi kebangsaan Asta Cita yang tengah digaungkan oleh Pemerintah. Kita berbicara tentang pemantapan ideologi Pancasila, pelestarian budaya nasional yang membanggakan, serta yang paling utama: pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter kuat, tangguh, dan berbudi pekerti luhur, ” papar Puji Handoko. 

Lebih lanjut, visi pelestarian ini selaras dengan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI). Ketua PB IPSI, Bapak Sugiono, menyampaikan bahwa pencak silat sebagai olahraga bela diri yang lahir dan tumbuh dari budaya bangsa Indonesia akan terus dijaga dan dikembangkannya. 

Baik dari sisi prestasi maupun pelestarian budaya yang selama ini sudah dilakukan oleh kepemimpinan Prabowo SubiantoGema Semangat Sang Presiden Melengkapi kedalaman makna festival ini, seluruh rangkaian acara juga secara khusus menggemakan kembali petuah luhur dari Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, yang selama ini dikenal sebagai tokoh utama penggerak dan pelindung Pencak Silat di Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo selalu mengingatkan dengan tegas bahwa Pencak Silat adalah instrumen strategis untuk character building (pembangunan karakter) dan memupuk patriotisme sejati. 

Semangat keprajuritan, pantang menyerah, rela berkorban, serta kewajiban etis seorang pendekar untuk selalu rendah hati dan melindungi yang lemah, menjadi landasan filosofis utama yang menjiwai setiap helaan napas perhelatan ini. 

Nilai-nilai kepahlawanan yang dititipkan oleh Presiden Prabowo diyakini menjadi sumbangsih nyata Persaudaraan Setia Hati demi mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri, dan berkepribadian dalam kebudayaan. 

Selama dua hari penuh, publik dan masyarakat umum disuguhkan ragam agenda yang sarat makna. Arena festival dipenuhi dengan demonstrasi jurus baku tradisi yang memukau, penampilan seni ganda dan regu yang ritmis, hingga sarasehan budaya yang mengupas tuntas kedalaman filosofi Persaudaraan Setia Hati. 

Melalui festival di Tangerang Selatan ini, para pesilat kembali membuktikan sebuah komitmen yang tak bisa ditawar: melestarikan Pencak Silat sama halnya dengan merawat denyut nadi dan jati diri bangsa Indonesia.

Kontak Media: Panitia Festival Pencak Silat Tradisi Persaudaraan Setia Hati 2026

Lokasi Acara: Plaza Walikota, Tangerang Selatan, Banten

Reporter: Ujang Rahmat
Back to top