Film Conjurig Angkat Cosplayer Hantu Bandung, Tayang 1 Oktober 2026

Penulis: Ujang Rahmat  •  Selasa, 29 September 2026 | 22:16:31 WIB
Film komedi Conjurig dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026.

BANTEN — Film komedi Conjurig siap tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 1 Oktober 2026, mengangkat fenomena cosplayer jalanan berpakaian hantu di kawasan Braga dan Alun-Alun Bandung. Rumah produksi Global Borneo Entertainment bersama Bima Sakti Pictures dan Imagine merilis cerita yang terinspirasi dari komunitas Comjurig tersebut. Sutradara Tubagus Deddy menuangkan pengalaman riset langsungnya, termasuk momen kaget saat bertemu pocong di toilet umum Braga.

Produser Ariza Darmawan menyebut alasan utama mengangkat kehidupan para cosplayer jalanan ke layar lebar. Menurutnya, cerita ini dekat dengan keseharian sekaligus memberi ruang bagi talenta muda Bandung untuk tampil berdampingan dengan aktor senior.

"Selain ceritanya yang dekat dengan keseharian, kami juga ingin Conjurig jadi ruang buat talenta muda Bandung tampil berdampingan dengan aktor-aktor senior seperti Mathias Muchus, Joe P Project, dan Ferry Maryadi. Ini cara kami membawa wajah lokal Bandung ke layar lebar nasional," kata Ariza di CGV FX Sudirman, Jakarta, Senin (28/9/2026).

Ariza menambahkan, Bandung punya basis cosplay yang besar, terutama di wilayah Asia Afrika. Kreativitas warga kota itu, katanya, layak mendapat apresiasi lebih besar lewat medium film.

Dari Komunitas Comjurig ke Layar Bioskop

Film ini mengambil inspirasi dari Comjurig, wadah seniman jalanan yang mengenakan kostum hantu di kawasan Alun-Alun dan Jalan Braga, Bandung, Jawa Barat. Dunia cosplayer di kota tersebut disebut sudah sangat luas, tapi kehidupan para pelakunya jarang tersorot.

Conjurig menyajikan dinamika itu sebagai drama komedi. Ceritanya menyoroti alasan beragam di balik keputusan seseorang memakai kostum dan menghibur orang di jalanan.

Pengalaman Sutradara Bertemu Pocong di Braga

Sutradara Tubagus Deddy menuangkan pengalaman personal saat riset langsung kehidupan para cosplayer di kawasan Braga. Salah satu momen yang paling membekas terjadi ketika ia hendak menggunakan toilet umum.

"Kesulitannya cosplay-nya banyak sekali. Jadi waktu itu saya di Braga ingin ke toilet, itu ada di belakang. Pas buka pintu ternyata muncul pocong, kaget. Ternyata dia orang Sukabumi dan menjadi pocong. Dia nggak cari duit tapi cari kepuasan. Ada juga yang menjadi Spiderman yang mencari uang," kenang Tubagus.

Dari riset itu, Tubagus merangkum beragam cerita menjadi gagasan yang mengangkat nilai kehidupan. Ia menangkap dinamika alasan para cosplayer, mulai dari mencari nafkah hingga menjadi bentuk pelarian.

"Jadi saya menangkap dinamika alasan mereka menjadi cosplay, ada kepuasan, pelarian, dan mencari nafkah. Tapi premis besarnya adalah kejujuran," tegas Tubagus Deddy.

Makna di Balik Topeng Cosplayer

Melalui kisah para cosplayer, Tubagus juga menyoroti perbedaan antara penampilan seseorang dan sikap yang ditunjukkan sehari-hari. Menurutnya, kostum dan topeng yang dikenakan para cosplayer justru tidak selalu menggambarkan ketidakjujuran.

"Cosplayer-cosplayer ini jujur soal apa yang mereka lakukan, mencari uang dengan cara yang mereka pilih sendiri. Justru banyak orang di luar sana yang nggak pakai topeng secara fisik, tapi malah menyembunyikan kejujuran mereka. Itu yang ingin Conjurig angkat," tutur sineas tersebut.

Deretan Pemain Conjurig

Film Conjurig dibintangi sejumlah nama yang sudah dikenal penonton Indonesia. Dito Darmawan dan Shella Fernanda masuk sebagai pemain muda, beradu akting dengan Ferry Maryadi, Mathias Muchus, Joe P Project, Trie Utami, Anyun Cadel, hingga Bucek Depp.

Kombinasi pemain muda Bandung dan aktor senior menjadi salah satu daya tarik utama film ini. Ariza menyebutnya sebagai cara rumah produksi membawa wajah lokal ke panggung nasional.

Conjurig dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 1 Oktober 2026. Film ini menambah daftar rilisan drama komedi lokal yang mengangkat cerita keseharian warga kota, bukan sekadar kisah urban Jakarta.

Reporter: Ujang Rahmat
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top