BANTEN — Sebanyak 20 ibu dan pengajar di Desa Bakipandeyan, Sukoharjo, mengikuti seminar parenting bertajuk "Gen Alpha Kreatif, Orang Tua Adaptif" yang digelar tim PPG PGSD UNS. Program SAHABAT KELANA ini menawarkan cara praktis memperkuat kolaborasi orang tua dan anak, mulai dari komunikasi hingga mendampingi korban bullying.
Tim Proyek Kepemimpinan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru PGSD Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan program SAHABAT KELANA di Sanggar Belajar Migunani, Desa Bakipandeyan, Kabupaten Sukoharjo, pada 19–20 September 2026. Program ini mengusung tema "Kolaborasi Orang Tua dan Anak dalam Mendukung Tumbuh Kembang Anak".
SAHABAT KELANA adalah singkatan dari Sarana Harmoni Anak Bersama Orang Tua: Keluarga Lahirkan Anak Hebat. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat keterlibatan keluarga dalam mendampingi anak sekaligus meningkatkan partisipasi anak dalam berproses, bertumbuh, dan memupuk potensi diri.
Anak-anak Generasi Alpha tumbuh di era yang menuntut kemampuan adaptif terhadap berbagai perubahan. Keterampilan dasar dan pengalaman belajar kreatif tetap menjadi fondasi penting dalam proses belajar yang menyeluruh.
Program ini mendorong terbentuknya kolaborasi antara keluarga, Sanggar Belajar Migunani sebagai wadah belajar masyarakat desa, dan lingkungan pendidikan. Ketua Tim Proyek Kepemimpinan, Fath Sadidan Burhanudin, S.Pd., menyampaikan bahwa dukungan terhadap anak tidak hanya soal pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
"Melalui SAHABAT KELANA, kami ingin mengajak orang tua melihat bahwa dukungan terhadap anak tidak hanya berupa pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga kehadiran, perhatian, komunikasi, dan pendampingan," ujarnya.
Hari pertama kegiatan diawali dengan seminar parenting bertajuk "Gen Alpha Kreatif, Orang Tua Adaptif" yang diikuti 20 peserta, terdiri atas ibu rumah tangga dan pengajar Sanggar Belajar Migunani. Seminar menghadirkan Dr. Dwi Yuniasih Saputri, S.Pd., M.Pd., dosen PGSD UNS, sebagai narasumber.
Materi yang dibahas mencakup tantangan orang tua dalam mendampingi Generasi Alpha, mulai dari komunikasi, pemberian batasan, pengembangan kemandirian, dukungan terhadap kreativitas, hingga menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan.
Diskusi berlangsung interaktif. Peserta aktif menyampaikan pertanyaan dan berbagi pengalaman. Bu Dyah, salah satu peserta, mengangkat persoalan pemberian reward kepada anak — bagaimana penghargaan bisa diberikan sebagai bentuk apresiasi tanpa menjadikannya satu-satunya sumber motivasi.
Sementara itu, Bu Laras menanyakan cara menghadapi anak yang menjadi korban maupun pelaku bullying. Diskusi menekankan pentingnya komunikasi terbuka, mengenali perubahan perilaku anak, memberikan rasa aman, serta pendampingan berkelanjutan.
Selain seminar untuk orang tua, hari pertama diisi kegiatan meronce bagi anak-anak. Aktivitas ini dirancang untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan motorik halus, koordinasi mata dan tangan, konsentrasi, serta kesabaran anak.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada Minggu (20/9) dengan workshop pembuatan lilin aromaterapi dan permainan tradisional. Anak-anak tidak hanya melatih kreativitas dan keterampilan hidup, tetapi juga diajak melestarikan budaya serta melatih kerja sama, ketangkasan, dan kebersamaan.
Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk mengembangkan kreativitas, ketelitian, kesabaran, kemampuan mengikuti instruksi, keterampilan motorik, kerja sama tim, dan rasa percaya diri anak.
Pada hari kedua, jumlah anak yang hadir meningkat signifikan. Dari target awal 25 anak, sebanyak 31 anak hadir dan antusias mengikuti seluruh kegiatan — melampaui target sebanyak 6 anak.
Peningkatan ini menjadi catatan positif dalam pelaksanaan SAHABAT KELANA. Meskipun tidak dapat langsung disimpulkan sebagai dampak tunggal dari seminar parenting, perubahan partisipasi ini menunjukkan antusiasme anak dan keluarga terhadap kegiatan belajar di sanggar.
Kegiatan SAHABAT KELANA memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pengalaman belajar yang inklusif dan bermakna. Program ini juga mendukung SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui perhatian terhadap perkembangan sosial dan emosional anak.
Selain itu, SAHABAT KELANA sejalan dengan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi perguruan tinggi, keluarga, sanggar, dan masyarakat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa mendukung tumbuh kembang anak membutuhkan kerja sama berbagai pihak, bukan hanya orang tua atau sekolah saja.
Bagi ibu yang ingin menerapkan hal serupa di rumah, kuncinya sederhana: hadir secara konsisten, bangun komunikasi terbuka, dan ciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan sesuai karakter anak. Kolaborasi antara orang tua, anak, dan lingkungan belajar menjadi fondasi kuat bagi tumbuh kembang anak yang optimal.