BANTEN — Nilai tukar rupiah dibuka menguat ke level Rp17.729 per dolar AS pada perdagangan Jumat (18/9) pagi, naik 24 poin atau 0,14 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan mata uang Garuda sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang bergerak positif terhadap dolar AS, ditopang penurunan harga minyak mentah dunia.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan rupiah dipicu ekspektasi pasar bahwa Arab Saudi akan memulihkan sekitar setengah dari pasokan minyak yang sempat terganggu dalam beberapa hari ke depan. Ekspektasi itu menekan harga minyak mentah dunia sekaligus mengurangi tekanan inflasi impor bagi Indonesia.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS seiring penurunan harga minyak mentah dunia, menyusul harapan bahwa Arab Saudi akan memulihkan sekitar setengah dari pasokan yang terdampak dalam beberapa hari ke depan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Pergerakan rupiah senada dengan tren kawasan. Sebagian besar mata uang Asia mencatat apresiasi terhadap dolar AS, mencerminkan sentimen risiko yang membaik di pasar regional.
Meski begitu, tidak semua mata uang Asia bergerak searah. Dolar Singapura turun tipis 0,01 persen, yen Jepang melemah 0,17 persen, dan won Korea Selatan terdepresiasi 0,33 persen.
Menurut Lukman, penurunan harga minyak turut menekan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Pelemahan indeks dolar biasanya menjadi katalis positif bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.
"Perkembangan tersebut turut menekan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi AS," katanya.
Mata uang utama negara maju bergerak bervariasi. Euro Eropa menguat 0,05 persen, poundsterling Inggris naik 0,01 persen, dolar Australia menguat 0,11 persen, dan dolar Kanada naik 0,03 persen. Franc Swiss bergerak datar.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini berada dalam rentang Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS. Proyeksi itu mempertimbangkan dinamika harga minyak global dan arah indeks dolar AS sepanjang sesi perdagangan.
Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban valas, rentang tersebut menjadi acuan untuk menyusun strategi lindung nilai jangka pendek. Sementara investor obligasi akan mencermati pergerakan imbal hasil AS sebagai penentu arus modal masuk ke pasar Surat Berharga Negara.