BANTEN — Lonjakan harga terjadi setelah rangkaian serangan AS sepanjang pekan ini menewaskan dan melukai puluhan orang, termasuk warga sipil Iran. Pasar menilai bentrokan tersebut merupakan yang paling sengit antara kedua negara sejak Juli, sekaligus memperbesar risiko gangguan produksi dan distribusi minyak di kawasan penghasil utama dunia.
Data pasar menunjukkan performa harga mingguan yang impresif. Brent tercatat melonjak 7,1 persen dalam sepekan, sementara WTI melesat lebih tinggi hingga 9,8 persen. Keduanya berada di jalur kenaikan terbesar sejak pekan yang berakhir pada 20 Juli.
Konflik yang telah berlangsung tujuh bulan ini bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Kini, kekhawatiran pasar tidak lagi berfokus pada durasi perang, melainkan pada perluasan target operasi militer.
Ketegangan terbaru dipicu pernyataan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang kembali mengeluarkan peringatan akan melumpuhkan infrastruktur militer dan sipil Iran, termasuk fasilitas energi. Ancaman eksplisit terhadap sektor energi inilah yang menjadi pemicu utama aksi beli oleh pelaku pasar.
Eskalasi yang menyasar fasilitas energi atau jalur distribusi minyak berpotensi memangkas pasokan global secara signifikan. Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali memasukkan risiko geopolitik sebagai faktor utama penopang harga, sebuah variabel yang sempat meredup di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
Para investor kini mencermati setiap perkembangan konflik AS-Iran untuk mengukur besaran dampak terhadap pasokan minyak dunia. Jika eskalasi berlanjut dan target serangan meluas ke infrastruktur minyak, tekanan terhadap pasokan global berpotensi semakin besar.
Dalam skenario tersebut, harga minyak berpeluang kembali menembus level tertinggi baru. Namun, pasar juga memasang antisipasi terhadap potensi intervensi diplomatik yang dapat meredakan ketegangan dan mengembalikan fokus pada isu permintaan, mengingat pertumbuhan ekonomi global yang masih belum solid.