CILEGON — Syaeful Bahri menilai pembangunan kota industri ini selama ini terlalu bertumpu pada pemerintah. Padahal, dunia usaha, industri, tokoh masyarakat, ulama, pendidik, hingga pemuda punya peran strategis yang sama besarnya dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor itu menjadi kunci agar kualitas sumber daya manusia di Cilegon bisa berkejaran dengan pesatnya pertumbuhan kawasan industri. Tanpa itu, ia khawatir pembangunan hanya berhenti pada infrastruktur fisik.
Syaeful mengutip ajakan Wali Kota Cilegon Robinsar yang meminta seluruh elemen, terutama pelaku industri, untuk terlibat aktif dalam pembangunan kota. Ia menegaskan bahwa semangat gotong royong harus dihidupkan kembali, bukan hanya seremonial belaka.
“Wali Kota Cilegon mengajak kepada seluruh elemen Kota Cilegon, baik itu pemerintah, elemen pengusaha, terutama industri Kota Cilegon, tokoh masyarakat, pendidik, ulama, pemuda, dan seluruh elemen untuk sekali lagi ayo bersama membangun Cilegon,” kata Syaeful di Alun-Alun Kota Cilegon, Senin (17/8/2026).
Ia menambahkan, keterlibatan semua pihak menjadi prasyarat agar pembangunan menyentuh aspek peningkatan kualitas manusia, bukan hanya pertumbuhan ekonomi semata.
Bagi Syaeful, gerakan “Cilegon Mendidik, Sedanten Terdidik” bukanlah sekadar jargon. Ia menempatkannya sebagai fondasi untuk melahirkan generasi yang adaptif terhadap perubahan zaman, sekaligus jawaban atas tantangan kemerdekaan yang ke-81 tahun ini.
“Cilegon Juara itu juga harus dengan gerakan ‘Cilegon Mendidik, Sedanten Terdidik’,” ungkapnya.
Ia berharap semangat kemerdekaan kali ini benar-benar diwujudkan dalam aksi nyata di sektor pendidikan. Targetnya sederhana namun mendasar: menjadikan Cilegon sebagai rumah bersama yang nyaman untuk ditinggali.
Konsep rumah bersama itu, lanjut Syaeful, juga mencakup kehidupan sosial masyarakat. Lingkungan yang saling mendukung dan mensupport antarwarga menjadi modal penting membangun kota yang manusiawi.
“Kita ingin Cilegon menjadi rumah yang nyaman untuk melaksanakan hidup, baik sebagai bangsa, bernegara, sebagai warga agama maupun sebagai warga sosial masyarakat,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh warga untuk menjadikan momen kemerdekaan sebagai refleksi bersama. Sebab, pembangunan kota tidak akan pernah tuntas jika hanya digerakkan oleh sebagian kecil orang.