BANTEN — Pengepungan di kawasan Ras al-Ain, pinggiran Desa Qusra, memasuki hari kedelapan pada Minggu (17/8). Puluhan permukim Israel mengelilingi tiga rumah milik keluarga Abu Rida dan Hassan, memutus aliran air dan listrik hingga persediaan makanan menipis. Di antara yang terjebak terdapat dua anak di bawah usia tujuh tahun dan satu warga negara AS.
Pada Kamis pekan lalu, militer Israel memerintahkan penghuni dua rumah untuk keluar dan memaksa semua keluarga berkumpul di rumah ketiga. Warga setempat mengatakan permukim dari pos-pos terdepan di sekitar desa telah berupaya mengambil alih properti tersebut selama berbulan-bulan.
Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, yang dikenal sebagai pendukung kuat permukiman Yahudi di Tepi Barat, menyebut para permukim yang mengepung rumah-rumah itu sebagai "teroris Israel". Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia dan Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam pengepungan itu sebagai tindakan kriminal dan tidak manusiawi.
Jurnalis Al Jazeera, Nour Odeh, melaporkan dari Qusra bahwa rangkaian kejadian di desa ini mengikuti pola yang sama dengan yang terjadi di berbagai wilayah Tepi Barat. Militer Israel dikerahkan ke suatu area, mengambil alih rumah-rumah Palestina, dan merampas properti warga—sementara para permukim tidak menghadapi penangkapan apa pun.
Qusra berada di Area B, yang mencakup sekitar 21 persen wilayah Tepi Barat. Di area ini, Otoritas Palestina mengelola urusan sipil seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, namun Israel memegang kendali keamanan penuh dan pasukannya dapat masuk kapan saja.
Data Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB mencatat setidaknya 3.033 serangan permukim terjadi di Tepi Barat antara Januari hingga Juni 2025—rata-rata enam serangan setiap hari. Bulan lalu, pengepungan serupa di Desa Jalud yang bertetangga memaksa keluarga-keluarga Palestina meninggalkan tanah mereka, yang kemudian diambil alih permukim.
Qusra sendiri telah berulang kali menjadi sasaran, termasuk pembakaran masjid yang baru dibangun bulan lalu. Sejak perang genosida Israel di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, serangan permukim dan perampasan tanah meningkat di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mendukung perluasan permukiman secara cepat.
Sekitar 700.000 warga Israel tinggal di permukiman yang dianggap ilegal menurut hukum internasional. Sementara itu, sekitar tiga juta warga Palestina juga mendiami Tepi Barat, wilayah yang telah diduduki Israel sejak 1967. Pengepungan di Qusra masih berlangsung dan belum ada tanda-tanda penyelesaian, dengan warga yang terjebak bergantung pada bantuan yang diizinkan masuk oleh militer Israel.