Warga Puri Tamarin Tangerang Minta DBMSDA Cek Jalan Beton Rp148 Juta yang Retak Sebelum Dioperasikan

Penulis: Tedy Rustandi  •  Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:11:31 WIB
Warga Puri Tamarin meminta DBMSDA Kabupaten Tangerang memeriksa jalan beton yang retak sebelum dioperasikan.

TANGERANG — Jalan beton yang membelah Perumahan Puri Tamarin di Desa Pisangan Jaya, Kabupaten Tangerang, baru saja selesai dibangun namun permukaannya sudah memperlihatkan garis-garis retak. Pengerjaan proyek tersebut berada di bawah naungan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kabupaten Tangerang dengan kontraktor pelaksana CV Tri Karya.

Kondisi ini sontak memicu kekhawatiran warga setempat. Mereka menilai ada yang tidak beres dengan kualitas pekerjaan yang anggarannya bersumber dari APBD Kabupaten Tangerang Tahun Anggaran 2026 tersebut.

Harapan Warga: Jangan Sampai Cepat Rusak Sebelum Dipakai

Ben, salah seorang penghuni perumahan, mengaku kecewa. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib jalan tersebut nantinya jika setiap hari harus dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

"Kami sebagai warga tentu berharap jalan yang dibangun menggunakan anggaran pemerintah bisa awet dan memberikan manfaat dalam jangka panjang. Melihat kondisinya sudah retak sebelum dipakai, kami jadi khawatir bagaimana nanti kalau setiap hari dilalui kendaraan," ujarnya kepada media, Kamis (13/8/2026).

Alih-alih berspekulasi, Ben menegaskan bahwa persoalan teknis semacam ini sebaiknya diserahkan kepada pihak yang berkompeten. Ia berharap dinas terkait segera turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan menyeluruh.

"Kami hanya berharap ada pengecekan dari dinas terkait. Kalau memang ada kekurangan dalam pekerjaan, sebaiknya segera diperbaiki supaya tidak merugikan masyarakat maupun keuangan daerah," tegasnya.

Anggaran Hampir Rp150 Juta, Warga Tuntut Kualitas Terbaik

Keresahan serupa juga disampaikan warga lain berinisial DD. Ia mengingatkan bahwa nilai kontrak yang tidak sedikit, mendekati Rp150 juta, sudah sepantasnya berbanding lurus dengan kualitas hasil pekerjaan.

"Dengan anggaran yang hampir Rp150 juta, kami tentu berharap jalan tersebut memiliki kualitas yang sesuai dengan spesifikasi teknis. Kalau memang ditemukan keretakan dalam waktu singkat, sebaiknya diperiksa dulu apakah ada faktor teknis yang perlu diperbaiki," kata DD.

Warga tidak ingin penyebab keretakan ini disimpulkan secara terburu-buru. Mereka meminta ada audit menyeluruh terhadap kondisi lapangan, spesifikasi teknis, material yang dipakai, metode pelaksanaan, hingga kesesuaian pekerjaan dengan dokumen kontrak. Dengan begitu, hasil pemeriksaan diharapkan objektif dan bisa dipertanggungjawabkan.

Soal Pembatasan Kendaraan, Warga Minta Aturan yang Adil

Di luar persoalan fisik jalan, Ben juga menyoroti kebijakan pengurus RW setempat. Ia menilai ada ketidakadilan dalam penerapan aturan pembatasan kendaraan melintas di lingkungan tersebut.

Menurut pengakuannya, kendaraan proyek dengan beban besar masih bebas melintas, sementara warga yang hendak melakukan renovasi rumah justru dibatasi. Padahal, sebelumnya sudah pernah ada persoalan serupa yang tak kunjung tuntas.

"Kami sebagai warga merasa dirugikan. Untuk kendaraan yang berkaitan dengan renovasi rumah ada pembatasan, sementara kendaraan proyek bisa melintas dengan beban lebih besar. Kami berharap aturan ini dievaluasi dan diterapkan secara adil," tuturnya.

Ben berharap pengurus lingkungan lebih aktif menjadi jembatan aspirasi warga kepada pemerintah. Ia juga meminta pihak berwenang mengevaluasi aturan tersebut sekaligus memastikan kepengurusan lingkungan menjalankan fungsinya dengan baik.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari DBMSDA Kabupaten Tangerang maupun CV Tri Karya terkait temuan keretakan jalan beton tersebut.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: fixsnews.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top