Selain Indah Dan Mempesona, Curug Sawer Pandeglang Menyimpan Cerita Mistis

LensaBanten – Curug Sawer Pandeglang begitu indah dan mempesona dipandang mata. Namun, juga menyimpan cerita mistis yang hingga kini menjadi melegenda dikalangan masyarakat sekitar.

Curug (air terjun) itu sendiri memiliki dua tingkat. Yang pertama bernama Lalakina, berada dibagian paling atas dengan ketinggian mencapai 25 meter. Sedangkan yang kedua bernama Bikang dengan ketinggian tujuh meter, selain dua air terjun tersebut.

Di Curug Sawer juga terdapat goa bawah air yang panjangnya mencapai delapan km dan berujung di daerah Muara Babakan Nangka.

Selain sejarahnya yang unik, mitos dan misteri Curug Sawer Pandeglang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Konon kabarnya, ada seekor buaya putih yang menjaga keperawanan dari Curug tersebut. Buaya putih tersebut akan berubah menjadi sosok kakek tua berjenggot putih panjang pada saat bulan purnama.

Tugas utama dari buaya putih ini adalah menjaga Curug Sawer agar tidak terkena tangan usil manusia.

Curug ini juga sering digunakan sebagai tempat bersemedi bagi beberapa orang. Spot yang biasanya dijadikan tempat semedi adalah batu datar yang ada di semak-semak curug lalakina.

Mitos yang berkembang mengatakan bahwa ada penjaga di Curug tersebut, memancing masyarakat untuk meminta pertolongan atau sekedar menenangkan diri dengan cara bersemedi. Bahkan ada beberapa orang yang meyakini, kalau tempat itu sebagai pengaduan yang tepat kepada sang pencipta.

Lokasi Curug Sawer Pandeglang itu tidak jauh dari pusat Pemerintahan kecamatan Cigeulis, yaitu sekitar 1 km. Karena lokasinya yang sangat dekat dengan pemukiman warga, akses menuju Curug ini sangat mudah.

Air yang ada di Curug Sawer juga sangat jernih dan mempunyai kasiat memberi pesona tersendiri. Hal ini tidak lepas dari mitos yang berkembang di masyarakat Cigeulis itu sendiri.

Konon dahulu wilayah Cigeulis hanyalah jalur kerajaan dan hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan sementara tetapi ada satu wanita cantik yang kagum dan memutuskan untuk menetap di wilayah tersebut.

Wanita cantik tersebut dikisahkan menunggu teman hidupnya yang telah digariskan oleh sang pencipta. Tetapi sang pendamping tidak kunjung datang sehingga memaksanya menyusuri sungai untuk mencarinya.

Ketika sang wanita memanjat tebing kakinya tergelincir dan tubuhnya terhempas bersama air curug yang mengalir. Pada saat itu pula sang pendamping datang, tetapi terlambat sudah karena wanita yang ditakdirkan bersamanya telah tiada dan hanyut bersama jernihnya air Curug Sawer Pandeglang. (lenba/dbs)

Comment

Feed