• Kamis, 8 Desember 2022

Perlunya Kesetaraan Bahasa Daerah di Internet

- Kamis, 24 Februari 2022 | 18:23 WIB
Ilustrasi Internet
Ilustrasi Internet

Penulis :

Megi Primagara

Pengurus Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Provinsi Banten Periode 2017-2020

LENSABANTEN.COM - Tingginya penggunaan internet di berbagai negara nyatanya belum memberikan kesetaraan bagi bahasa daerah. Menurut data laman statista.com per Januari 2022, bahasa Inggris berada di urutan pertama sebagai bahasa yang paling banyak digunakan di internet. Disusul di urutan kedua adalah bahasa Mandarin (China), dan urutan ketiga bahasa Spanyol.

Sementara, data Global Language Digitization Initiative tahun 2021 menyatakan baru seribu dari tujuh ratus bahasa daerah di seluruh dunia yang telah tersedia di jagat internet. Bahkan peneliti linguistik Daniel Prado menyebutkan Google saja baru menyediakan sekitar seratus tiga puluh bahasa daerah dalam program terjemahannya.

Kesetaraan bahasa daerah di internet diperlukan untuk membangun konektifitas pengguna dengan konten yang diaksesnya. Bayangkan seorang pengguna yang sehari-hari lebih fasih menggunakan bahasa daerah daripada bahasa Inggris. Setiap kali berselancar di internet si pengguna lebih banyak menemukan konten berbahasa Inggris. Akibatnya, si pengguna tidak merasakan manfaat dari setiap konten yang diaksesnya karena kesulitan memahami pesan dari konten berbahasa Inggris.

Baca Juga: Pengasuh Ponpes Desak Pemerintah Kota Tangerang Segera Terbitkan Perda Pesantren

Kondisi inilah yang disebut dengan ketidaksetaraan informasi (information inequality). Internet yang seharusnya menjadi ruang terbuka bagi siapapun untuk mengakses dan berbagi informasi, pada kenyataannya beragam informasi di internet tidak memberi manfaat apapun akibat dominasi penggunaan bahasa Inggris pada sistem pemograman komputer dan internet.

Tantangan Keseteraan Bahasa Daerah

Halaman:

Editor: Fajrin Raharjo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X