Kekeringan, 454 hektare Area Sawah di Lebak Gagal Panen

LensaBanten – Semakin bertambah dari jumlah sebelumnya 425 hektare kini sebanyak 454 hektare lahan pertanian sawah di Kabupaten Lebak, Banten mengalami puso atau gagal panen.

Pelaksana Data Statistik Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Lebak menerangkan, selain akibat kemarau panjang dan kekeringan areal persawahan yang mengalami gagal panen itu juga akibat tidak adanya jaringan irigasi dan juga tidak memiliki sumber air permukaan.

“Kami terus berupaya melakukan intervensi dengan menyedot pompa air ke permukaan agar mengaliir ke areal persawahan, sehingga petani bisa melaksanakan gerakan tanam,” kata Supardi di Lebak, Sabtu (21/9/ 2019).

Pemerintah daerah sebenarnya bisa menyelamatkan tanaman padi jika terdapat air permukaan dengan pompanisasi.

Karena itu, pihaknya mengoptimalkan pompanisasi agar produksi pangan melimpah dan tidak terjadi kerawanan pangan.

Namun, menurut dia, kemarau panjang tahun ini belum berdampak terhadap produksi pangan di Lebak karena panen masih berlangsung hingga Desember mendatang.

“Saya kira kekeringan itu tidak menjadikan ancaman kerawanan pangan,” kata dia.

Bahkan, produksi pangan sampai Agustus 2019 mencapai 205.208 ton dengan konsumsi beras warga Lebak rata-rata 143.724 ton per tahun dari 1,2 juta penduduk.

Sedangkan, produksi beras hingga Agustus 2019 surplus 109.393 ton atau mencukupi kebutuhan untuk sembilan bulan ke depan.

“Kami menjamin stok pangan masih melimpah dan mencukupi hingga 2020,” jelasnya.

Supardi menjelaskan, kekeringan pada areal persawahan yang terjadi akibat kemarau panjang di Kabupaten Lebak belum memberi ancaman krisis pangan.

baca juga: Pandeglang dan Lebak Lepas dari Kategori Daerah Tertinggal

Berdasarkan data Januari hingga Agustus 2019, angka tanam 56,68 persen dari lahan baku pertanian sawah seluas 41 ribu hektare.

“Saya kira areal persawahan yang gagal panen itu relatif kecil dibandingkan angka tanam, bahkan awal Oktober 2019 juga ada gerakan tanam,” kata dia.

Ia menjelaskan, tanaman pangan yang gagal panen antara usia 30 hingga 40 hari setelah tanam (HST) kekeringan akibat kemarau panjang.

Kebanyakan areal persawahan itu di daerah pesisir selatan seperti Kecamatan Wanasalam dan Malingping karena tidak terdapat pasokan air dari saluran irigasi. (lenba/dbs)

Comment

Feed