Gelombang "Schooligans" Ancam Sepak Bola Non-Liga Inggris, UKFPU Jadikan Prioritas Utama

Penulis: Pandu Wibisono  •  Sabtu, 07 November 2026 | 17:49:31 WIB
Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris menjadikan fenomena suporter remaja "schooligans" sebagai prioritas utama menyusul meningkatnya insiden di sepak bola non-liga.

BANTEN — Aksi kenakalan remaja penggemar sepak bola non-liga di Inggris meningkat tajam dan memicu kekhawatiran serius. Unit Kepolisian Sepak Bola Inggris (UKFPU) kini menetapkan fenomena yang dijuluki "schooligans" sebagai prioritas paling penting, menyusul serangkaian insiden yang melibatkan suporter di bawah umur 18 tahun.

Insiden terbaru terjadi di Chester, ketika sekelompok remaja pendukung Hednesford Town tiba untuk laga National League North. Mereka memesan taksi menuju stadion, namun rombongan remaja lokal berbalaclava muncul dan berusaha menyerang kendaraan tersebut. Seorang remaja berusia tidak lebih dari 16 tahun terlihat mengeluarkan sebilah pisau panjang dari celah celananya.

Peristiwa itu berakhir tanpa korban luka, meski penyelidikan kepolisian telah dibuka. Laga berjalan tanpa gangguan dan rombongan Hednesford dikawal polisi Cheshire kembali ke stasiun. Insiden di Chester menjadi salah satu dari banyak kasus yang membuat sepak bola non-liga Inggris berada dalam tekanan.

Dari Balaclava hingga Batu: Rangkaian Insiden di Berbagai Klub

Sepanjang tahun ini, klub-klub dari pantai selatan hingga timur laut melaporkan gangguan yang disebabkan suporter di bawah 18 tahun, sebagian tampak baru berusia 10 tahun. Pada Februari, Aldershot Town mengalami serangkaian insiden kekacauan melibatkan remaja, termasuk perkelahian di luar stadion.

Klub menyebut perilaku tersebut "sepenuhnya tidak dapat diterima dan tidak akan ditoleransi". Pada Agustus, Enfield Town menyatakan "khawatir dan kecewa" terhadap penggemar muda dalam laga di Lewes. Dua pekan lalu, seorang pendukung Gloucester City terkena batu yang dilempar remaja di Redditch United dalam laga FA Trophy.

Bahkan Soham Town Rangers dari kasta kesembilan Eastern Counties League mendesak orang tua memastikan anak-anak mereka membuat "pilihan yang bijak" jelang laga melawan Mildenhall Town.

Hednesford Town dan Julukan yang Lahir dari Staf Keamanan

Hednesford mengalami masalah serupa selama beberapa musim. Pada Agustus, pemilik sekaligus ketua klub Craig Gwilt berupaya menghadapi persoalan tersebut. Menurutnya, gelombang kekacauan yang meningkat merugikan klub, mencakup "invasi lapangan, perkelahian, pelecehan terhadap pemain, benda yang dilempar ke kiper lawan, flare masuk ke lapangan, bahkan gangguan terhadap botol air pemain".

Seruan Gwilt tidak langsung didengar. Tiga pekan setelah pernyataannya, klub melarang 20 pendukung muda menghadiri pertandingan menyusul aksi away di Telford. Julukan "schooligans" sendiri dicetuskan oleh staf keamanan Hednesford.

Hednesford adalah kota berpenduduk 19.000 jiwa di tepi kawasan lindung Cannock Chase. Pusat kotanya rapi, dengan monumen resimen Stafford di jantungnya. Klub menjadi pusat komunitas, namun keduanya kini kesulitan menangani persoalan yang membuat banyak pihak kebingungan.

Larangan Masuk Tanpa Pendamping dan Pola Baru Pasca-Laga

Musim ini klub menerapkan aturan agar anak di bawah 16 tahun tidak bisa masuk tanpa pendamping orang dewasa. Keamanan ekstra juga ditambah pada hari pertandingan. Intervensi itu tampak menahan kekacauan di dalam dan sekitar stadion.

Namun kini kelompok berisi hingga 50 remaja berkumpul setelah laga di lokasi yang aman untuk mencari masalah, atau lebih sering menyimpan energi untuk laga away. Dalam perjalanan ke Chester, rombongan schooligans dikeluarkan dari satu kereta karena perilaku antisosial dan mengonsumsi alkohol sepanjang perjalanan.

Kehadiran kelompok semacam itu pada hari Sabtu tentu akrab bagi banyak penumpang kereta di Inggris.

Kepala Eksekutif Hednesford: Fenomena Ini Membingungkan

Marvin Robinson, kepala eksekutif Hednesford, mengaku bingung dengan fenomena tersebut. Ia lebih memilih menghabiskan waktu memodernisasi klub yang baru meraih promosi berturut-turut.

"Saya tidak benar-benar yakin memahami mengapa ini tampak menjadi tren," kata Robinson. "Ini isu sosial yang lebih luas, tapi apa itu dan akan menjadi apa? Apakah ini soal media sosial? Apakah soal ketenaran atau ingin dikenal karena sesuatu? Respons orang dewasa di dunia maya hampir menormalkannya. Saya tidak setuju dengan itu."

TikTok dan Normalisasi Kekacauan di Kalangan Remaja

Di TikTok, gambaran mulai sedikit lebih jelas. Dari akun agregator hingga akun semi-anonim milik para remaja, terdapat banyak unggahan yang merayakan perilaku "top lads" yang "mooch" ke stadion lalu "mengusir" lawan dari kota.

Unggahan itu sering disertai musik dansa elektronik euphoric, lapisan efek visual, dan takarir seperti "akhir pekan ini membuatku merasa seperti anak kecil di konser Chris". Pola ini menunjukkan bagaimana kekacauan di sepak bola non-liga tidak hanya terjadi di jalanan, tetapi juga dipamerkan dan dinormalisasi di ruang digital.

UKFPU menegaskan fenomena ini sebagai prioritas paling penting. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah kekacauan remaja akan berlanjut, melainkan berapa lama sebelum kenakalan tersebut berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top