MoraRepublic Gabung Moratelindo dan MyRepublic, Layani 2,8 Juta Pelanggan

Penulis: Ujang Rahmat  •  Sabtu, 31 Oktober 2026 | 19:50:01 WIB
MoraRepublic resmi berdiri sebagai hasil merger Moratelindo dan MyRepublic.

BANTEN — MoraRepublic resmi berdiri sebagai hasil merger PT Mora Telematika Indonesia Tbk dengan PT Eka Mas Republik, menyatukan backbone Moratelindo dan layanan MyRepublic. Perusahaan infrastruktur digital ini mengklaim jaringan serat optik lebih dari 183 ribu kilometer dari Sabang sampai Merauke, dengan kapasitas bandwidth 108 TB dan enam pusat data global. Konsolidasi ini menargetkan pemerataan internet rumah tangga di tengah percepatan transformasi digital nasional.

MoraRepublic lahir dari penggabungan dua entitas telekomunikasi yang sebelumnya bergerak di lapisan berbeda: Mora Telematika Indonesia sebagai pemilik backbone, dan Eka Mas Republik sebagai operator layanan ritel. Keduanya kini berada dalam satu ekosistem konektivitas yang mencakup Moratelindo, MyRepublic Fiber, MyRepublic Air, Oxygen.id Home, dan Oxygen.id Business.

Jaringan yang diklaim salah satu terluas di Indonesia itu menembus 14,1 juta homepass untuk layanan fiber to the home (FTTH) dan fixed wireless access (FWA). Dari jumlah tersebut, lebih dari 2,8 juta pelanggan aktif berasal dari segmen bisnis maupun rumah tangga.

Infrastruktur yang Menopang Layanan

Kapasitas bandwidth 108 TB dan enam pusat data global menjadi tulang punggung layanan MoraRepublic. Perusahaan menyebut infrastruktur itu dirancang untuk menjaga konektivitas dengan latensi rendah, faktor yang makin krusial bagi pelanggan rumahan yang memakai aplikasi konferensi video dan layanan cloud.

Jangkauan serat optik lebih dari 183 ribu kilometer mencakup jalur darat dan laut dari Sabang hingga Merauke. Untuk pasar Indonesia yang berbentuk kepulauan, panjang jaringan itu menentukan seberapa jauh layanan fiber bisa menjangkau wilayah di luar Jawa.

Produk yang Tersedia bagi Pelanggan

Ekosistem MoraRepublic dibagi menjadi dua lapisan. Moratelindo menangani infrastruktur dan layanan wholesale, sementara MyRepublic Fiber, MyRepublic Air, Oxygen.id Home, dan Oxygen.id Business menyasar pengguna akhir.

Struktur ini membuka peluang cross selling. Pelanggan rumah tangga yang memakai MyRepublic Fiber bisa menambah layanan lain dari portofolio yang sama, begitu pula pelanggan bisnis Oxygen.id. Bagi perusahaan, model itu menekan biaya akuisisi pelanggan karena satu basis pengguna bisa dipakai untuk beberapa produk.

Kaitan dengan Agenda Digital Nasional

MoraRepublic memposisikan merger sebagai bagian dari percepatan digital nasional yang masuk dalam Asta Cita Kabinet Merah Putih. Pemerataan internet masih menjadi pekerjaan rumah di banyak daerah, terutama wilayah timur Indonesia yang selama ini bergantung pada koneksi satelit atau jaringan seluler terbatas.

Kehadiran backbone yang lebih panjang dan kapasitas bandwidth besar berpotensi menurunkan harga akses di wilayah yang sebelumnya mahal. Namun klaim itu baru bisa diuji setelah integrasi jaringan kedua entitas selesai dan kapasitas tambahan benar-benar dipakai di lapangan.

Posisi di Pasar Infrastruktur Digital

Langkah konsolidasi ini terjadi saat operator fiber di Indonesia bersaing ketat memperebutkan pelanggan rumah tangga. Beberapa pemain besar lain juga memperluas jaringan FTTH mereka, sehingga skala jaringan dan kecepatan rollout menjadi pembeda utama.

Dengan lebih dari 14 juta homepass, MoraRepublic masuk jajaran pemilik jaringan akses terbesar di Tanah Air. Perusahaan menyebut konsistensi pembangunan infrastruktur sebagai komitmen jangka panjang, bukan proyek sesaat.

Yang belum terungkap dari pengumuman ini adalah nilai transaksi merger, struktur kepemilikan saham setelah penggabungan, serta target jumlah pelanggan baru hingga akhir tahun. Detail tersebut akan menentukan seberapa besar dampak konsolidasi terhadap persaingan harga internet rumah di Indonesia.

Reporter: Ujang Rahmat
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top