BI Tahan BI-Rate di 5,75%, Bunga Deposito Masih Berpotensi Naik

Penulis: Tedy Rustandi  •  Minggu, 27 September 2026 | 14:51:31 WIB
Bank Indonesia memutuskan menahan BI-Rate di level 5,75 persen.

BANTEN — Suku bunga deposito perbankan berpotensi tetap tinggi hingga akhir tahun meski Bank Indonesia memutuskan menahan BI-Rate di level 5,75%. Kenaikan 100 bps suku bunga acuan sejak awal tahun masih merembet ke bunga simpanan, dengan tenor tiga bulan naik paling tajam dari 5,5% menjadi 5,8% per Agustus 2026. Persaingan likuiditas yang ketat membuat bank sulit menurunkan harga dana.

Persaingan Likuiditas Bikin Bank Sulit Pangkas Bunga

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengakui penurunan suku bunga simpanan bukan perkara mudah. Persaingan likuiditas di pasar masih ketat, sehingga bank mesti menawarkan bunga tinggi meski biaya dana ikut membengkak.

Hingga Juli 2026, beban bunga CIMB Niaga naik 10,03% secara tahunan menjadi Rp 5,73 triliun. Kenaikan itu menggerus pendapatan bunga bersih perseroan yang turun 0,06% secara tahunan menjadi Rp 6,93 triliun.

"Kelihatannya biaya dana belum bisa turun dan ada potensi untuk naik sampai akhir tahun," tutur Lani kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).

Ekonom: Bunga Deposito Masih Bergerak Sideways

Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai suku bunga simpanan dalam waktu dekat masih bergerak sideways di level relatif tinggi. Peluang bank menurunkan bunga secara simultan dan signifikan baru terbuka jika kebijakan stabilitas konsisten dan inflow modal asing berlanjut.

"Stabilitas nilai tukar rupiah terus menguat dan premi risiko domestik menurun, sehingga memberikan keyakinan bagi BI untuk melonggarkan kebijakan moneternya di masa mendatang," ujar Rahma kepada Kontan, Minggu (27/9/2026).

Strategi Tiap Bank Berbeda Menghadapi Biaya Dana

Direktur OK Bank Efdinal Alamsyah menyatakan perseroan mengelola pricing dana secara selektif, tidak semata mengikuti kenaikan suku bunga pasar. Pertimbangannya mencakup kebutuhan likuiditas dan dampak terhadap biaya dana.

"Suku bunga dana tidak hanya ditentukan oleh BI-Rate, tetapi juga oleh kondisi likuiditas perbankan, persaingan dalam menghimpun DPK, kebutuhan pertumbuhan kredit, kondisi pasar uang, serta strategi pendanaan masing-masing bank," jelas Efdinal.

Jika likuiditas industri membaik dan kompetisi dana pihak ketiga mereda, bunga dana berpotensi lebih stabil. Sebaliknya, bila persaingan tetap ketat, bunga dana bertahan di level tinggi meski BI-Rate tidak naik.

BTN Justru Turunkan Bunga Simpanan

Direktur Network & Retail Funding Bank Tabungan Negara Rully Setiawan menyebut kebijakan BI menahan suku bunga secara teoretis menjawab tantangan utama industri tahun ini, yakni likuiditas.

"Suku bunga ditahan itu kami bisa menjaga ekspansi kredit kami dengan suku bunga yang tidak diragukan oleh masyarakat," kata Rully.

BTN mengaku menempuh arah berbeda dengan menurunkan bunga simpanan. Perseroan membatasi porsi deposito sebagai dana mahal dan mengoptimalkan dana murah untuk menjaga biaya dana tetap efisien.

Bayang-Bayang Penarikan Dana SAL

Rahma menyoroti isu penarikan saldo anggaran lebih di perbankan sebagai variabel kunci arah likuiditas makro. Sebagian dana SAL ditarik bertahap sesuai kebutuhan pemerintah, terutama pada paruh kedua tahun anggaran saat realisasi belanja mencapai puncak.

Penarikan itu membuat likuiditas di bank tempat dana parkir mengalami kontraksi temporer. Bagi bank Himbara yang menjadi jangkar likuiditas sistemik, penurunan ini memperketat rasio likuiditas dan memaksa mereka kembali mengandalkan DPK untuk menjaga kapasitas ekspansi kredit.

Bagi nasabah, kondisi ini berarti bunga deposito berpotensi bertahan tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Namun bagi emiten perbankan, biaya dana yang mahal menjadi tekanan tersendiri terhadap margin bunga bersih hingga akhir tahun.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: keuangan.kontan.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top