Pemerintah Provinsi Banten menargetkan Kawasan Ekonomi Khusus Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional (KEK ETKI) Banten di BSD, Kabupaten Tangerang, menjadi magnet investasi berbasis teknologi, termasuk fasilitas pusat data. Target investasi kawasan itu diproyeksikan menembus Rp18 triliun dalam 20 tahun ke depan, dengan realisasi tahun pertama sudah menyentuh Rp1,9 triliun. Gubernur Banten Andra Soni menyebut capaian itu melampaui ekspektasi.
TANGERANG — Gubernur Banten Andra Soni menyatakan KEK ETKI Banten di BSD mencatat kemajuan signifikan pada tahap awal pengembangan. Realisasi investasi tahun pertama kawasan tersebut mencapai Rp1,9 triliun dengan serapan tenaga kerja sekitar 1.773 orang.
Dalam lima tahun ke depan, nilai investasi di kawasan itu ditargetkan mendekati Rp6 triliun. Proyeksi jangka panjang 20 tahun menempatkan angka Rp18 triliun sebagai target.
Andra menilai pertumbuhan ekonomi Banten akan ikut terangkat bila kawasan ini berjalan sesuai rencana. Dampaknya, kata dia, bakal terasa langsung bagi warga.
Banten saat ini memiliki dua kawasan ekonomi khusus yang ditetapkan pemerintah pusat. KEK Tanjung Lesung diarahkan pada sektor pariwisata, sementara KEK ETKI Banten bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, dan teknologi digital.
Pengelola kawasan tengah mengajukan perluasan area menyusul tingginya minat investor. Andra menyebut pusat data menjadi salah satu teknologi yang akan masuk.
"Nantinya akan banyak teknologi yang masuk, salah satunya data center. Kehadiran infrastruktur ini sangat diperlukan oleh pemerintah guna mendukung ekosistem digital di Indonesia," kata Andra.
Pemprov Banten menekankan pengembangan KEK harus selaras dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kerja sama dengan pengelola kawasan sudah dijalin untuk membuka akses pendidikan dan pelatihan yang sesuai kebutuhan industri.
Salah satu wujudnya adalah beasiswa pendidikan vokasi di Fuji Academy bagi 20 anak asal Banten. Program itu disiapkan untuk menghasilkan lulusan siap kerja yang diproyeksikan berkarier di Jepang.
"Kami telah membangun kerja sama dengan pihak pengelola. Mereka memfasilitasi anak-anak Banten agar memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang berkualitas di sini," ujar Andra.
Kepala Divisi Operasional Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK ETKI Banten Lindawaty menjelaskan kawasan ini resmi ditetapkan pada Oktober 2024 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2024. Luas lahannya kurang lebih 59,68 hektare.
Progres pembangunan saat ini sekitar 50 persen, terutama di sisi timur. Sisi barat masih dalam tahap pengembangan.
Dari sisi pelaku usaha, sudah ada 29 tenant yang beroperasi atau membangun fasilitas di dalam kawasan. Targetnya sedikitnya 50 pelaku usaha dalam lima tahun ke depan.
Sektor kesehatan menjadi salah satu daya tarik utama investor di KEK ETKI Banten. Beberapa bidang usaha yang sudah hadir meliputi layanan In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung, klinik kecantikan dan estetika, klinik onkologi, serta laboratorium genetik.
Pengelola kawasan terus berkoordinasi dengan Pemprov Banten untuk memaksimalkan promosi dan membuka peluang kolaborasi dengan pelaku usaha lokal.
"Kami bersama Pemprov (Banten) berupaya mempromosikan KEK melalui sistem aplikasi investasi. Selain itu, kami juga membuka peluang kolaborasi dengan mempertemukan (business matching) para pelaku usaha di sekitar kawasan dengan mitra bisnis yang sudah ada di dalam kawasan," kata Lindawaty.