BANTEN — Data Kementerian Kesehatan menunjukkan stunting masih jadi tantangan besar di Indonesia. Angka prevalensinya memang turun dari tahun ke tahun, tapi jalan menuju target 14 persen pada 2024 masih panjang.
Masalahnya, banyak ibu mengira stunting hanya soal asupan protein hewani. Padahal ada faktor lain yang sama penting dan sering terabaikan.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Anak yang stunting punya tinggi badan di bawah standar usianya, dan biasanya disertai gangguan perkembangan otak.
Yang jarang disadari: infeksi berulang akibat lingkungan kotor bisa menguras nutrisi anak. Diare, cacingan, dan penyakit kulit membuat zat gizi yang masuk tidak terserap maksimal. Inilah kenapa toilet layak dan air bersih masuk dalam paket pencegahan stunting.
Program Pencegahan Stunting dan Sanitasi berbasis masyarakat yang diluncurkan di Desa Kedungkeris, Gunungkidul, Yogyakarta, merangkum pendekatan ini dalam tiga pilar. Program yang berjalan 2026-2028 ini bisa jadi contoh cara kerja pencegahan yang menyeluruh.
Direktur Yayasan Cita Sehat, Ali Mujianto, menyebut pendekatan berbasis masyarakat penting agar intervensi tepat sasaran. Yayasan ini bekerja sama dengan bidan desa, konselor laktasi, dan kader Posyandu untuk mendampingi keluarga rentan secara langsung.
Tidak perlu menunggu program datang ke desa. Beberapa langkah sederhana berikut bisa langsung diterapkan.
Pastikan akses air bersih dan jamban sehat. Buang air besar sembarangan masih jadi masalah di banyak wilayah. Jika keluarga punya balita, prioritas pertama adalah memastikan tidak ada kontaminasi tinja ke sumber air atau area bermain anak.
Cuci tangan pakai sabun di momen kritis. Sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi anak, setelah dari toilet, dan setelah mengganti popok. Lima momen ini menyumbang pencegahan infeksi terbesar.
Pantau tumbuh kembang tiap bulan. Bawa anak ke Posyandu untuk ditimbang dan diukur tinggi badannya. Penurunan berat badan atau tinggi yang stagnan dua bulan berturut-turut adalah sinyal yang tidak boleh diabaikan.
Penuhi protein hewani harian. Telur, ikan, ayam, dan daging membantu pertumbuhan linear anak. Untuk ibu hamil, asupan ini juga menentukan berat lahir bayi.
Segera bawa anak ke bidan desa atau puskesmas jika tinggi badannya tidak naik signifikan dalam tiga bulan, sering diare berulang, atau terlihat lemas dan tidak nafsu makan. Konselor laktasi juga bisa membantu ibu yang kesulitan menyusui.
Director & General Manager Herbalife Indonesia, Oktrianto Wahyu Jatmiko, menegaskan pentingnya intervensi menyeluruh.
"Pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, upaya Herbalife tidak hanya berfokus pada nutrisi, tetapi juga mencakup edukasi perubahan perilaku, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan setempat, serta perbaikan lingkungan dan sanitasi," ujarnya.
Pada tahap awal 2026, program di Kedungkeris menargetkan manfaat langsung bagi 275 orang, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, calon ibu, keluarga rentan, kader Poskesdes, dan petugas lapangan KB. Sebanyak tujuh paket alat pemantauan tumbuh kembang juga diserahkan ke tiap Posyandu desa.
Kepala Desa Kedungkeris, Rusdi Martono, menyebut Poskesdes yang diresmikan Agustus 2026 sebagai sumber daya tambahan untuk memperkuat upaya pencegahan stunting di wilayahnya.
Intinya, mencegah stunting bukan proyek satu dua bulan. Ini kerja panjang yang melibatkan dapur, kamar mandi, meja makan, dan Posyandu. Semua bisa ibu mulai dari rumah, satu kebiasaan kecil setiap hari.