TANGERANG — Sebanyak 624 rencana penerbangan dipastikan tidak dapat beroperasi pada hari kedua penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ratusan ribu calon penumpang yang dijadwalkan terbang pun belum dapat diberangkatkan imbas sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.
Assistant Deputy Communication and Legal Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Yudistiawan, menyatakan penghentian operasional dilakukan setelah diterbitkannya NOTAM (Notice to Airmen) terbaru terkait batas keamanan ruang udara di sekitar bandara.
Dari total 624 pergerakan pesawat yang masuk ke Pusat Perencanaan Penerbangan, sebanyak 461 di antaranya merupakan rute domestik. Sisanya terdiri dari 156 rute internasional dan tujuh penerbangan kargo.
"Pada hari kedua penutupan tercatat sebanyak 624 rencana penerbangan terpaksa tidak dapat beroperasi dan sedikitnya 75.236 calon penumpang terdampak," ujar Yudistiawan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau sebenarnya sudah terasa sejak hari pertama. Pengelola bandara mencatat total 1.039 penerbangan terdampak hingga Minggu, 6 September 2026 pukul 21.30 WIB.
"Terdapat 1.039 penerbangan terdampak, akumulasi dari pembatalan penerbangan, keterlambatan penerbangan, pengalihan pendaratan penerbangan ke bandara lain dan sebagainya," kata Yudistiawan. Jumlah penumpang yang terdampak pada periode tersebut mencapai 119.215 orang.
Sejumlah maskapai, termasuk Garuda Indonesia, telah mengumumkan penundaan dan pembatalan penerbangan dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan penumpukan calon penumpang di area terminal.
Sebagai prosedur pemulihan layanan, pengelola bandara menyediakan bantuan makanan ringan dan fasilitas bus gratis. Layanan bus disiapkan menuju empat kota utama tujuan antarkota di Pulau Jawa.
Pemeriksaan keselamatan armada pesawat juga diperketat. Hal ini untuk mencegah kerusakan mesin akibat paparan partikel abu vulkanik yang dapat membahayakan penerbangan.