Dinkes Banten Siagakan Seluruh Faskes 24 Jam Antisipasi ISPA Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

Penulis: Ramli Siregar  •  Senin, 07 September 2026 | 13:01:32 WIB
Seluruh fasilitas kesehatan di Banten disiagakan 24 jam untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat abu vulkanik Anak Krakatau.

SERANG — Dinas Kesehatan Provinsi Banten mengaktifkan layanan siaga di seluruh rumah sakit, puskesmas, hingga pos kesehatan untuk menghadapi potensi gangguan kesehatan akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kewaspadaan dini ini dipicu oleh risiko iritasi saluran pernapasan yang bisa meningkat sewaktu-waktu mengikuti arah sebaran abu.

Kesiapsiagaan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Nomor 400.7/3234/DINKES/2026. Seluruh fasilitas pelayanan kesehatan diminta memastikan logistik dan obat-obatan esensial dalam kondisi siap pakai.

Stok Obat dan Alat Kesehatan Disiapkan untuk Kelompok Rentan

Kepala Dinkes Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti menyatakan, fasilitas kesehatan wajib melengkapi diri dengan tabung oksigen, obat bronkodilator, inhaler, hingga respirator partikulat seperti masker N95 dan KN95. Ketersediaan alat tersebut ditujukan untuk menangani pasien dengan keluhan pernapasan akut maupun penyakit kronis yang kambuh.

“Saat ini kasusnya memang masih dalam batas normal. Namun demikian, kami bersama seluruh tenaga kesehatan tetap bersiaga sesuai arahan dari Bapak Gubernur Banten agar ke depan tidak terjadi lonjakan kasus,” ujar Ati, Minggu (6/9/2026).

Pemantauan harian kasus akan diprioritaskan bagi kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan penderita penyakit kronis. Data hasil pengawasan di lapangan nantinya dikoordinasikan dengan BMKG, BPBD, dan Dinas Lingkungan Hidup untuk membaca korelasi antara kualitas udara serta tren gangguan kesehatan.

Abu Vulkanik Berisiko Picu ISPA dan Iritasi Mata

Ati menjelaskan, partikel abu yang halus hingga sangat halus mengandung gas bersifat iritan. Paparan dalam durasi tertentu bisa memicu iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga memperburuk kondisi penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

Selain mengganggu pernapasan, abu vulkanik juga berisiko menyebabkan iritasi pada mata dan kulit. Kontaminasi sumber air serta bahan pangan yang tidak tertutup rapat menjadi ancaman lanjutan yang harus diwaspadai masyarakat.

“Bila membersihkan abu, basahi secukupnya terlebih dahulu agar tidak beterbangan. Hindari menyapu kering. Selain itu, pastikan ketersediaan obat rutin bagi anggota keluarga dengan penyakit kronis tersedia cukup di rumah,” tutup Ati.

Warga Diminta Gunakan Masker saat Aktivitas di Luar Ruangan

Dinkes Banten mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan guna menekan risiko paparan. Apabila terpaksa keluar rumah, warga diminta mengenakan masker untuk melindungi saluran pernapasan dari partikel abu.

Di tingkat rumah tangga, warga diingatkan menutup rapat pintu, jendela, serta celah ventilasi yang berpotensi menjadi jalan masuk abu. Tempat penampungan air dan wadah makanan juga wajib dipastikan tertutup untuk mencegah kontaminasi.

Stok masker untuk warga terdampak dipastikan tersedia. Pusat Krisis Kementerian Kesehatan akan menyalurkan bantuan masker tambahan ke sejumlah daerah yang berpotensi terdampak, termasuk Banten, Lampung, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: barayanews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top