BANTEN — Dolar Amerika Serikat tercatat diperdagangkan di posisi Rp17.775,0 pada Kamis (27/8/2026), naik 80,0 poin dari penutupan sebelumnya di Rp17.695,0. Sepanjang sesi, mata uang Garuda bergerak fluktuatif dengan rentang harian Rp17.700,0 hingga Rp17.867,5, mencerminkan volatilitas yang masih tinggi di pasar valuta asing.
Dalam evaluasi 52 minggu, posisi ini masih jauh dari level terendahnya di Rp16.294,0. Adapun rekor tertinggi pasangan USD/IDR sempat menyentuh angka Rp18.197,5 pada periode tersebut.
Tekanan terhadap rupiah datang dari dua arah sekaligus. Dari eksternal, sikap bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih hawkish membuat investor global memilih berlindung di aset dolar AS. Dari domestik, arus keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi pemerintah terus berlanjut karena investor mencari imbal hasil lebih menarik di negara lain.
Pelemahan harga minyak sawit mentah (CPO) dan batu bara di pasar global turut memperburuk posisi rupiah. Kedua komoditas tersebut merupakan penyumbang utama devisa ekspor Indonesia, sehingga penurunan harganya mengurangi pasokan dolar di pasar domestik.
Ketegangan geopolitik global yang belum mereda juga mendorong preferensi investor terhadap aset aman seperti dolar AS dan emas, menambah lapisan tekanan bagi mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75%. Keputusan ini diambil sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan ruang pertumbuhan ekonomi domestik yang masih membutuhkan dukungan likuiditas.
Untuk meredam volatilitas, BI secara rutin menjalankan strategi triple intervention, meliputi intervensi di pasar valuta asing spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Dari sisi domestik, agenda unjuk rasa di sekitar kompleks parlemen turut menjadi perhatian pelaku pasar. Namun dampaknya terhadap pasar keuangan dinilai terbatas dibandingkan faktor global seperti arah kebijakan moneter AS dan rilis data ekonomi Amerika Serikat.
Sejumlah analis memproyeksikan rupiah akan bergerak sideways dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini. Potensi rebound ke kisaran Rp17.600 terbuka apabila pejabat The Fed memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat. Sebaliknya, jika tekanan dolar AS terus berlanjut, level psikologis Rp18.000 per dolar AS berpeluang tersentuh dalam beberapa hari ke depan.
Pelaku pasar disarankan mencermati data inflasi dan tenaga kerja Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat, serta perkembangan kondisi domestik yang dapat memengaruhi sentimen investor terhadap aset rupiah. Bagi masyarakat dengan kebutuhan transaksi dolar untuk keperluan bisnis maupun investasi, memantau pergerakan kurs secara berkala menjadi langkah penting untuk pengambilan keputusan yang lebih tepat waktu.
Fluktuasi mata uang yang terus bergerak membuat penyimpanan aset dalam bentuk dolar menjadi salah satu opsi diversifikasi bagi investor. Investasi mengandung risiko.