Konsumsi Pertalite dan Solar Subsidi Naik 12,92% Usai Pertamax Naik ke Rp16.250

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:30:04 WIB
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas memaparkan data kenaikan konsumsi BBM subsidi dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu (26/8).

BANTEN — Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Migas) mengonfirmasi adanya lonjakan konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi dalam dua bulan terakhir. Kenaikan ini terjadi sebagai efek berantai dari penyesuaian harga Pertamax yang berlaku sejak 10 Juni 2026, yang membuat sebagian konsumen memilih berpindah ke Pertalite.

Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, memaparkan data tersebut dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI pada Rabu (26/8). Data menunjukkan rata-rata penyaluran Pertalite kini mencapai 84.368 kiloliter (KL) per hari, bertambah sekitar 9.794 KL harian dibandingkan periode sebelum penyesuaian harga.

Lonjakan Konsumsi Pertalite Capai 84.368 KL per Hari

Sebelum harga Pertamax naik dari Rp 16.250 per liter, penyaluran Pertalite tercatat di level 75.795 KL per hari. Setelah penyesuaian harga, konsumsi langsung meningkat 9,19% atau bertambah 6.965 KL per hari pada periode Juni.

Kenaikan berlanjut sepanjang Juli 2026 dengan tambahan penyaluran mencapai 9.794 KL per hari. Wahyudi menjelaskan fenomena ini merupakan indikasi pergeseran konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.

"Kenaikan konsumsi Pertalite yang rerata saat ini menjadi 84.368 KL ini memang shifting dari sisi pemindahan semula konsumsi Pertamax menjadi Pertalite," ujarnya dalam rapat tersebut.

Solar Subsidi Ikut Membengkak 15,10% di Agustus

Konsumsi Solar subsidi juga menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Sebelum penyesuaian harga solar nonsubsidi, rata-rata penyaluran berada di angka 50.624 KL per hari, namun kini telah mencapai 58.271 KL per hari—menambah beban penyaluran sekitar 7.647 KL setiap harinya.

"Kenaikan menunjukkan kenaikan yang paling tinggi di bulan Agustus sebesar 15,10%. Ini khusus solar subsidi dan kami terus melakukan proses dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat secara baik karena faktor ekonomi juga terjadi indikasi peningkatan," jelas Wahyudi.

Koreksi Harga Pertamax Mulai Redam Laju Konsumsi

Memasuki Agustus 2026, laju kenaikan konsumsi Pertalite mulai sedikit melandai. Hal ini sejalan dengan koreksi harga Pertamax yang turun dari Rp 16.250 menjadi Rp 15.950 per liter, membuat selisih harga dengan Pertalite kembali menyempit.

Ketika harga Pertamax turun, sebagian konsumen yang sempat pindah ke Pertalite mulai kembali menggunakan BBM nonsubsidi. Kondisi ini membuat konsumsi Pertamax ikut mengalami penyesuaian setelah sebelumnya sempat tertekan.

Aktivitas Logistik dan Sektor Produktif Jadi Pemicu Utama

Selain faktor pergeseran konsumsi, peningkatan kebutuhan BBM subsidi juga didorong menggeliatnya aktivitas logistik di sejumlah wilayah. Wahyudi menyebut peningkatan kebutuhan solar terlihat jelas di Jawa Timur—khususnya Surabaya dan sekitarnya—serta Medan, Palembang, Riau, Kalimantan, dan Makassar.

"Ini penting untuk dicermati karena di Triwulan 2 ini kegiatan logistik terus terjadi peningkatan, baik itu untuk ekspor maupun impor untuk didistribusikan kepada masyarakat di sekitar wilayah tersebut," katanya.

Pertumbuhan sektor produktif turut berkontribusi terhadap meningkatnya kebutuhan BBM. Data BPH Migas mencatat sektor perdagangan tumbuh 6,39% secara year to date (YTD), sektor akomodasi dan makan-minum tumbuh 10,60% YTD, serta sektor pertanian tumbuh 3,8% YTD. Implementasi program strategis pemerintah 2026 seperti Koperasi Nelayan Merah Putih, Brigadir Pangan, dan UTSD juga disebut turut mendorong distribusi BBM di lapangan.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top